URGENSI AQIDAH DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK MANUSIA*

Posted: Mei 22, 2012 in aqidah & ahlak (islam)

Aqidah secara bahasa diambil dari kata aqdun-’Aqoid yang berarti akad atau

ikatan, menguatkan; mengokohkan; meneguhkan.

Secara istilah aqidah dimaknai sebagai :

1. sesuatu yang wajib diimani diyakini tanpa keraguan dan menjadi panutan dan

diperjuangkan pemeluknya

2. pemikiran yang mendasar dan menyeluruh yang ada pada seseorang tentang alam,

manusia dan kehidupannya dan menjadi landasan bagi setiap perilakunya

Permasalahan

Dewasa ini umat Islam mengalami kemunduran yang sangat signifikan. banyak

diantara mereka mengaku Islam tapi tidak kenal dengan Islam bahkan tidak mau terikat

dengan Islam itu sendiri. Mereka menjadikan Islam hanya sebagai sebuah legalitas

formal orang beragama, tanpa mau tahu ada tuntutan atau konsekuensi logis atas

pemilihan agamanya tersebut yaitu beribadah sesuai tuntunan agama yang diyakininya

tersebut. Hal ini jelas menjadi ironis sekali, tapi secara umum umat Islam mengalami hal

ini. Persoalan ini mendasar dan menjadikan renungan sampai sejauh mana ikatan aqidah

seorang pemeluk agam Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan atau sudah sedemikian

lalaikah umat terhadap aqidah Islam ini.

Umat bebas menentukan pilihan termasuk paham/isme sebagai sarana mencapai

kebahagiaan. Kita bisa membagi menjadi tiga kharakteristik besar isme besar dunia

bersumber dari sini :

1. Keyakinan kapitalisme dan berkembang menjadi liberal, materialisme, hedonisme, dll.

2. Keyakinan Sosialisme berkembang mejadi komunisme, anti agama, dll.

3. Keyakinan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

Ketiga isme besar ini sangat berpengaruh dan menentukan arah bagi dunia ini

berkembang. Hanya saja dalam Islam ada sumber keyakinan yang tidak mungkin salah

dan itu ada dalam kitab yang diturunkan Allah SWT. kepada umatnya seperti 5:3, 19:85.

Terpenting lagi dalam setiap rasul yang diturunkan tidak ada penyimpangan atas aqidah

ini artinya selalu terjaga dari dulu sampai sekarang seperti dalam 21:25, 16:35, 4:136 dan

tidak ada perbedaan atas para Utusan Allah dalam menyampaikan aqidah keyakinan ini

dalam 42:13.

Manfaat dari belajar aqidah adalah :

Akan mendapatkan buah mengenal Allah SWT.

Aqidah menjadi sesuatu yang sangat diperntingkan dalam kehidupan

Sebagai landasan ibadah

Sebagai landasan membina masyarakat.

Perlu dipahami bahwa dakwah Rasulullah selama di Mekkah adalah ditujukan

khusus masalah akidah dan ini dilakukan selama 13 tahun masa kenabian. Maka hasil

yang dicapai oleh para sahabat Rasul bisa menunjukkan kualitas yang sempurna. Pada

saat itu belum diturunkan aturan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan pribadi

dan bermasyarakat, seperti muamalah, puasa dll. Bahkan sholat pun diturunkan Allah

kepada Rasul menjelang hijrah ke Madinah. Disini disadari bahwa peranan aqidah adalah

sangat penting dalam pembinaan manusia dan masyarakat.

Benar bahwa Rasullullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tapi

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

akhlak yang sempurna ini tidak akan dapat terwujud tanpa disandarkan pada landasan

keimanan karena aqidah yang mantap. Bila aqidah sudah dapat diwujudkan dalam amal

maka dengan otomatis akhlak manusia pun akan dapat mengikutinya.

Salah satu yang harus diketahui dalam belajar akidah adalah memahami kembali

makna syahadah. Mungkin kita sudah mengetahuinya walaupun banyak yang baru

sebatas permukaan saja. Maksudnya, berbicara tentang makna syahadah dan urgensinya

dalam kehidupan walaupun syahadah ini sudah sering kali ucapkan, bahkan dalam sholat-

sholat kita. Tapi apa hakikat dari makna syahadah ini sering kita lalaikan.

Syahadah sendiri merupakan bagian dari rukun iman, bahkan merupakan rukun

iman yang pertama. Artinya, mendapatkan kedudukan utama sebagai awal keislaman dan

keimanan kita. Dengan mengucapkannya, seseorang berhak menjadi seorang muslim dan

mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Syahadah ini,

merupakan pintu gerbang antara kegelapan jahilliyah menuju terang benderangnya

cahaya Islam. Artinya, bila seseorang itu tidak Islam walaupun dia adalah seorang yang

berpendidikan atau mempunyai kedudukan karena kekayaan dan kekuasaannya, tetap

saja orang tersebut tergolong dalam kegelapan jahiliyah. Sementara bila seseorang telah

berislam/bersyahadah walaupun dia seorang yang miskin tidak punya apa-apa, tidak

berkuasa dan tidak berkedudukan tetap saja dia mempunyai nilai yang terhormat di sisi

Allah karena telah tergolong manusia yang mengikuti nur Islam yang terang. Bahkan bila

dia dalam kesabaran dan keistiqomahan bukan tidak mungkin akan mendapat naungan

rahmat dari Allah. Dan ini akan memungkinkan orang tersebut masuk surga yang penuh

kebahagiaan dan kedamaian. Karena berdasar hadist rasul barang siapa dalam hidupnya

pernah mengucapkan syahadah maka dia akan dimasukkan dalam surga. Atau redaksi

yang lain, pada saat kematiannya bisa mengucapkan syahadah pasti akan masuk surga.

Hanya saja kalau menjelang mati merupakan hal yang sulit dilakukan bila di masa

hidupnya tidak sering mengucapkannya. Dan saat hidup mengucapkan tapi tidak

diamalkan apa bedanya dengan orang munafik, yaitu mengucapkan tapi tidak

melaksanakannya.

Syahadah seperti sudah dimengerti mempunyai dua arti yaitu syahadah tauhid

yang maknanya mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain

yang menyamai-Nya, dan syahadah Rasul yang mengimani Muhammad sebagai utusan

Allah tapi perlu dipahami bahwa landasan iman ini mempunyai makna yang sangat

mendalam berdasar hadist Rasul. Dan ini seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan

umat muslim, karena sudah menyederhanakan makna syahadah pada tempat yang tidak

semestinya.

Minimal ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu :

1. Tasdiiqul bil qolbi

Yaitu syahadah harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dipunyai maka

keraguan akan Islam akan muncul, padahal ini merupakan nilai terpenting akan

keimanan seseorang. Ada kisah seorang sahabat bernama Amer bin Yassar yang

dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum

kafir Quraisyi sehingga secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran

karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya diketahui oleh Rasullullah

dan diperbolehkan diucapkan selama hatinya tidak membenarkan. Ini membuktikan

keimanan itu harus ada di dalam kalbu manusia, ayatnya ada dalam 49:14.

2. Iqrooru bil lisan

Yaitu syahadah harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ucapan. Ada

pembuktian secara nyata kepada orang lain keislaman kita dengan mengucapkan

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

syahadah keislaman kita. Makanya bagi orang yang kembali masuk Islam, langkah

pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Baru

dia berhak menyandang gelar seorang muslim dan mempunyai kewajiban yang

sama dengan muslim lainnya. Dengan pengucapan syahadah ini dapat membedakan

seseorang muslim dengan non muslim.

3. al amalu bil arkan

Yang berikutnya inilah yang terberat karena mewajibkan setiap muslim

mengaplikasikan syahadahnya dengan amal ibadah secara nyata. Syahadah bukan

sekadar diucapkan dan dibenarkan oleh hati tapi sampai tingkat pelaksanaan hukum-

hukum Allah baik berupa larangan dan perintah-Nya. Makanya bukan seorang

muslim yang benar bila sekadar bersyahadah saja tapi tidak beribadah yang lain sesuai

perintah Allah, seperti meninggalkan sholat, puasa, haji, dll. Pada tingkatan inilah

seseorang dinilai sebagai muslim sejati atau tidak oleh Allah. Bila tidak berarti main-

main dengan kesyahadahnya dan dapat digolongkan ke dalam umat yang munafik.

Lalu apa pengaruh akidah terhadap akhlak seorang muslim,khususnya pemuda. Kita

bisa membahasnya dengan menyadari dahulu, tugas berat yang disandang pemuda di

bawah ini :

1. Sebagai penyambung generasi kaum beriman (QS.52:21, 25:74)

2. Sebagai pengganti orang-orang yang beriman yang telah terjadi degradasi iman

(QS.5:54)

3. Sebagai reformer spiritual terhadap kaum yang telah menyimpang dari agama

(QS.5:104)

4. Sebagai unsur perbaikan (QS.18:13-14)

Hanya sayangnya, kebanyakan pemuda tidak memahami tugas berat ini karena

lemahnya pemahaman terhadap Islam yang syamil dam mutakamil. Kita lebih sering

mendapati mereka lebih suka nongkrong dan begadang di jalan, cuci mata di pusat

perbelanjaan atau yang parah lebih suka menceritakan bagaimana mereka tawuran, teler,

ajojing di pub dan diskotek, terlibat narkoba bahkan hubungan liar beda jenis antar

mereka, daripada mereka yang baca Qur’an atau sedang mengaji di mushola atau seperti

sekarang ini mengikuti kajian Islam. Suatu hal yang ironis, dikarenakan banyak tugas

berat yang tidak mereka sadari karena ketidak pahaman atas makna dasar kehidupan ini.

Seperti dari mana mereka berasal, untuk apa diciptakan dan akan bagaimana mereka

hidup. Jarang jawaban yang dapat kita ambil dari mereka saat ditanya siapa idolanya,

yang menjawab tokoh-tokoh panutan umat. Tapi tokoh glamour yang cenderung

hedonisme (keduniaan) seperti artis, atlit -lah yang kebanyakan mereka agung-agungkan

dan dijadikan teladan hidup.

Arus informasi yang semakin kompleks dan menerpa kita dari bangun tidur

sampai kita tidur lagi semakin menambah rumitnya permasalahan. Banyak yang

kemudian terlena tidak hanya masalah yang menjadi kewajiban utama tadi di atas tapi

sekadar belajar untuk mengerjakan tugas perkuliahan pun jadi jarang terkerjakan secara

sempurna. Akibatnya semakin fatal, benteng pemahaman yang tidak matang dikepung

terpaan informasi yang cenderung bias dan menyesatkan semakin menjauhkan kita dari

nilai-nilai pemahaman Islam yang sempurna. Kita bisa melihat contoh media massa

(khususnya televisi) lebih sering menampilkan adegan seronok -minimal memudahkan

cara untuk berhubungan dengan lawan jenis- dan sarkasme seperti cara membunuh,

tindakan kriminal, mengumpat, dsb. Atau minimal musik yang melalaikan ditambah

goyangan dan desahan suara yang membikin hati tidak tenang. Akhirnya norma

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

pergaulan ketimuran pun -yang sarat batasan- pun mengalami goncangan. Apalagi

agama. Jarang kita bisa menemukan orang tua yang mampu mengontrol pergaulan anak-

anaknya, dengan siapa mereka bermain, bermain apa dan dimana, apa tujuan dan cara

bermainnya. Privasi kehidupan semakin diagungkan, perhatian diartikan campur tangan

dan dominasi. Dan akhirnya hubungan orang tua dan anak semakin renggang.

Efek lain yang muncul adalah larinya anak ke dalam pergaulan bebas yang lebih

sering tanpa aturan, karena samanya keinginan dan usia yang menyebabkan anak jadi

semakin susah diatur. Kalau mungkin larinya mereka (dalam banyak kasus dengan

alasan mencari jati diri) ke dalam pergaulan yang bermanfaat seperti kegiatan ekstra

kampus atau kegiatan lain yang lebih mengandung kebaikan, tidak akan membawa

masalah. Tapi bila sebaliknya, akan berpengaruh yang sangat besar tidak saja secara

pribadi tapi meluas ke dalam masyarakat secara umum. Dan biasanya mereka cenderung

menyembunyikan apa yang mereka lakukan di luar rumah kepada keluarga mereka,

dengan alasan renggangnya hubungan antar anggota keluarga. Hasilnya banyak orang tua

yang kaget ketika mendapat laporan anak mereka menyimpang demikian jauh, padahal di

rumah menunjukkan perilaku sebagai anak mami yang manis.

Satu masalah akhlak yang perlu mendapat perhatian serius adalah bebasnya

hubungan antar jenis diantara pemuda yang nantinya menjadi tonggak pembaharuan di

masa depan. Islam sangat memperhatikan masalah ini dan banyak memberikan rambu-

rambu untuk bisa berhati-hati dalam melewati masa muda. Suatu masa yang akan ditanya

Allah di hari kiamat diantara empat masa kehidupan di dunia ini. Kita bisa memahami

hakikat pergaulan dalam Islam dengan melihat Al Qur’an :

“Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan

seburuk-buruknya jalan” (QS.17:32). Dan kita bisa memahami rambu-rambu Ilahiah

seperti berikut :

1. Rambu hati, didasarkan hadits shahih Bukhari :

“Zina itu banyak cabangnya, yaitu zina hati, mata, dan telinga, dan alat

kelaminlah yang akan membuktikan apakah berzina atau tidak”.

2. Rambu mata, didasarkan pada hadits shahih Bukhari “

“Apabila seseorang memalingkan pandangannya pada wanita (lawan

jenis;pen) yang bukan muhrimnya karena takut kepada Allah, maka Allah

akan membuat dia merasakan manisnya iman”.

Dalam An-Nur/24:30-31 ada larangan untuk mengumbar pandangan, dan hadits

lewat Imam Ali : Hai Ali, hanya dijadikan halal bagimu pandangan yang

pertama”(Bukhari).

3. Rambu telinga, adanya larangan untuk mendengar perkataan-perkataan yang tidak

senonoh dan jorok.

4. Rambu tangan, wujudnya dengan martubasi dan bersalaman atau menyentuh lawan

jenis yang bukan muhrimnya. Didasarkan pada hadits :

“Lebih baik seseorang menggenggam bara api (babi, di lain riwayat) atau

ditombak dari duburnya hingga menembus kepala daripada menyentuh

wanita yang bukan muhrimnya.”

Rasullullah selama hidupnya tidak pernah menyentuh wanita yang bukan

muhrimnya, hanya mengucapkan salam.

5. Rambu kaki, larangan untuk melangkahkan kaki ke tempat-tempat maksiat atau

tempat dimana terjadi pembauran laki-laki wanita yang tidak dikehendaki dalam

Islam. Khusus wanita dilarang menghentakkan kaki dengan maksud memperlihatkan

perhiasan (An-Nur/24:31).

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

6. Rambu suara, dasarnya surat Al-Ahzab/33:32 :

“Hai isteri-isteri Nabi, tiadalah kamu seperti salah seorang dari perempuan-

perempuan itu jika kamu bertakwa, maka janganlah kamu terlalu lembut

dalam berbicara sehingga tertariklah orang yang di hatinya ada penyakit

(keinginan), dan ucapkanlah perkataan yang baik.

Ayat ini tentu tidak hanya ditujukan buat isteri Rasul semata. Untuk itu kita perlu

berhati-hati terhadap suara yang mendayu, mendesah, merayu seperti sering

dieksploitasi media massa.

7. Rambu seluruh tubuh, dasarnya An-Nur/24:1, 31, Al-Ahzab/33:59).

“Hai nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan

perempuan-perempuan mukmin, ‘Hendaklah mereka itu memakai jilbab atas

dirinya.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenal, maka mereka

tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampunlagi Maha Penyayang”.

Ayat di atas mewajibkan kita untuk menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak

tangan, kecuali muhrimnya. Sementara untuk pria auratnya adalan antara pusar dengan

lutut.

Dalam operasional pergaulan Islam ada aturan baku yang mesti mutlak untuk

ditaati a.l. :

1. Wajib atas pria dan wanita untuk menundukkan pandangannya, kecuali empat hal :

bertujuan meminang

belajar-mengajar

pengobatan

proses pengadilan (At-Tarbiyah Al-Aulad Fil Islam, Abdullah Nashih Ulwan)

2. Menutup aurat secara sempurna, tidak sekadar tutup tapi masih kelihatan lekuk tubuh

dan bentuknya.

3. Larangan bepergian buat wanita tanpa muhrim sejauh perjalan sehari semalam

(pendapat lain, seukuran jamak sholat).

4. Bagi yang sudah berkeluarga, seorang isteri dilarang pergi tanpa ijin suami.

5. Larangan bertabarruj bagi wanita (bersolek/berdandan untuk memperlihatkan

perhiasan dan kecantikan kepada orang lain) kecuali untuk suami.

6. Larangan berkhalwat (berdua-dua antara pria dan wanita di temapat sepi)

7. Perintah untuk menjauhi tempat-tempat yang subhat, menjurus maksiat.

8. Anjuran untuk menjauhi ikhtilat antara kelompok pria dan kelompok wanita.

9. Hubungan ta’awun (tolong menolong) pria dan wanita dilakukan dalam bentuk umum,

seperti mu’amalah.

10. Anjuran segera menikah, bila tidak mampu suruhan berpuasa dilaksanakan.

11. Anjuran bertawakkal, menyerahkan segala permasalahan pada Allah.

12. Islam menyuruh pria dan wanita untuk bertakwa kepada Allah sebagai kendali

internal jiwa seseorang terhadap perbuatan dosa dan maksiat.

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

Kita memahami bahwa masa muda adalah masa yang sangat berat. Ditambah faktor

eksternal yang demikian kuat membelokkan tujuan utama beribadah mencapai ridha

Allah, maka dalam penyampaian kebenaran ini juga perlu mendapat perhatian yang

seksama. Kita tidak bisa saja dengan gampang memberi peringatan tanpa memahami

uslub dan wasilah dakwah dan mengerti sejauh mana pemahaman yang dipahami teman

dan masyarakat kita. Minimal yang mesti kita siapkan untuk berdakwah tentang etika

pergaulan Islam ini adalah :

1. Menyamakan persepsi dan kepahaman, bahwa ini merupakan masalah yang besar dan

cukup kompleks.

2. Memahami fiqh dakwah dan syar’i secara cukup komprehensif.

3. Memahami bahwa hidayah tidak bisa dipaksakan, tapi tetap kita mengupayakan sebab-

sebab terjadinya sunnatullah (turunnya hidayah).

4. Mempelajari kaidah dakwah agar dalam proses penyampaiannya tidak mengalami

benturan yang justru membuat kita tertolak seperti :

1. Qudwah sebelum dakwah ; peringatan harus dimulai dari diri kita dulu.

2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran ; menumbuhkan kasih sayang, perhatian,

dan kelembutan dalam kata dan perilaku (suluk).

3. Mengenalkan sebelum memberi tugas ; tingkat kepahaman masing-masing orang

berbeda, perlu pemahaman yang tepat.

4. Bertahap dalam pemberian tugas.

5. Mempermudah bukan mempersulit ; dalam menyampaikan jangan beri aturan yang

rumit dan terkesan menakutkan.

6. Ushul sebelum furu’ : yang utama adalah mengajarkan tauhid sebelum yang lain.

7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman.

8. Memahamkan dengan perbuatan dan kata, bukan mendikte/instruksi.

9. Mendidik bukan menelanjangi ; bukan malah menyebarkan aib dan dosa orang lain.

10. Menjadi murid orang yang paham bukan hanya baca buku.

Terakhir dalam dakwah tentang pergaulan Islam, kita dianjurkan untuk tidak

ekslusif artinya justru bergaul hanya kepada orang yang sepaham saja dan meninggalkan

mereka yang awam terhadap Islam. Terpenting untuk menyerahkan diri kepada Allah

segala urusan dan memperkuat ibadah-ibadah yang makin mengeratkan hubungan

dengan Allah sehingga lebih bisa menjaga diri dari perbuatan yang mendekati zina, yang

diharamkan Allah.

KepadaNya lah saja kita bertawakkal.

* Disampaikan pada acara ONDI UKI FE Unsoed 12 September 2001

** Penulis adalah staf pengajar Ilmu Komunikasi Fisip Unsoed

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s