Perundingan dan Budaya

Posted: Mei 22, 2012 in indonesia
Tag:,


Rizal Panggabean

Ada tiga cara dalam memandang hubungan (ketiadaan hubungan) antara budaya dan negosiasi, yaitu  budaya sebagai rintangan dalam perundingan, budaya sebagai bekal atau penolong dalam perundingan, dan budaya tidak memiliki kaitan dengan perundingan.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan pendekatan dan prilaku berunding antara budaya-budaya tertentu. Karenanya, sikap hati-hati amat diperlukan dalam menghadapi perbedaan budaya dalam perundingan. Berikut beberapa temuan penting lainnya berkaitan dengan perundingan dan budaya.

  • Semakin lama para perunding terlibat dalam perundingan, semakin kecil peran budaya asal (adat, agama, nasional) mereka. Di sini muncul istilah subkultur perunding, yang merujuk pada proses pembentukan subkultur di kalangan para perunding, yang pada gilirannya memperkecil pengaruh latar belakang budaya asal perunding. Subkultur perunding ini menjadi budaya ketiga (jika terdapat dua perunding), yang terbentuk seiring dengan bergesernya posisi perunding dari ‘lawan runding’ menjadi ‘kawan runding’ (counterparts  menjadi compatriots). Sebagai contoh adalah subkultur antar perwakilan negara di PBB, yang menjadi lebih dominan dibandingkan budaya nasional dari para duta negara dan cenderung ‘memuluskan’ proses perundingan.
  • Budaya mempengaruhi prilaku. Hal ini antara lain mencakup orientasi dan pendekatan terhadap konflik dan perundingan (konfrontasi, kompetisi, kolaborasi, kompromi), keterbukaan dalam menghadapi perbedaan dan konflik, serta tingkat individualisme dan kolektivisme. Juru runding dari budaya kolektivis misalnya, cenderung lebih sensitif terhadap perbedaan budaya dibandingkan juru runding dari budaya individualis. Lebih jauh, perunding dari budaya kolektivis cenderung kooperatif ketika berunding dengan ‘teman’ dan lebih kompetitif ketika berunding dengan ‘orang asing’.
  • Budaya dapat secara langsung mempengaruhi dinamika perundingan. Ini mencakup kecenderungan bersikap keras atau lunak; induktif atau deduktif; persepsi terhadap waktu, tingkat formalitas atau informalitas; tingkat mengekspresikan emosi; serta konsepsi linearitas dalam perundingan.
  • Perbedaan budaya melahirkan perbedaan nilai dan tolok ukur dalam memandang hasil perundingan. Bisa jadi satu budaya lebih menekankan pada keadilan sebagai tolok ukur kelayakan, sementara pihak lain lebih menekankan pada kesetaraan atau kebutuhan.

Strategi Perundingan Melek-Budaya

Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika berunding dengan pihak lain yang budayanya relatif asing:

  • Melibatkan penasehat atau agen ahili yang akrab dengan budaya tersebut, misalnya penerjemah, pakar budaya, tokoh adat atau tokoh agama.
  • Melibatkan mediator atau fasilitator yang dapat membantu memudahkan dan menjembatani interaksi dan komunikasi.
  • Menghindari kesan arogan atau tidak menghormati budaya lain.

Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika berunding dengan pihak lain yang budayanya agak dikenal:

  • Menggunakan strategi adaptasi, yang mengedepankan penyesuaian diri dengan script (pendekatan, cara atau model) pihak lain.
  • Menggunakan strategi koordinasi, yang mengedepankan pengembangan script  bersama dalam berdiskusi dan berunding.

Beberapa hal yang dapat dilakukan ketika berunding dengan pihak lain yang budayanya sangat dikenal:

  • Menggunakan script lawan berunding, jika kita menganggap diri sudah bilingual dan bikultural.
  • Menggunakan strategi improvisasi dengan mengembangkan script sembari perundingan berjalan, membina empati dan daya tanggap kultural.
  • Menciptakan protokol perundingan atau diplomatik bersama, membangun budaya (subkultur) bersama sehingga semua pihak dapat melampaui budaya sepihak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s