filsafat sosial

Posted: Mei 13, 2012 in filsafat

 

  1. Menurut dialektika historis yang tertancap jauh kedasar bumi (masa munculnya filsafat sebagai bapak dari semua ilmu) ini maka dapat dikatakan bahwa ilmu sosiologi memang sudah ada semenjak masa ala pemikiran Yunani, namun ilmu sosiologi berkembang dan dapat maju pesat sehingga dapat dikatakan sebagai suatu disiplin ilmu yang berdiri sendiri adalah masa dan dipelopori oleh August Cmte. Independensi ilmu pengetahuan merupakan suatu asumsi terhadap suatu ilmu yang memiliki suati paradigma tersendiri, dalam artian  ilmu pengetahuan ini dapat dijadikan sebagai intrumen dalam menganalisa dan mencari solusi yang pas terhadap patologi sosial yang ada di Masyarakat. Kemudian ditambah lagi dengan penerus August Comte pada akhir abad 18 awal abad 19 tepatnya ilmu sosiologi menjulang tinggi sehingga dapat dan sering dipakai oleh para pakar dalam menganalisa patologi sosial serta juga dikatakan argumentasi yang digunakan adalah pernyataan ilmiah yang dapat memberikan jawaban pada kondisi sosial masyarakat menurut ilmu pengetahuan. Sebagai seorang pelopor August Comte –disadari atau tidak- juga banyak menyumbangkan pemikirannya dalam ilmu sosiologi.  Comte mengajarkan usaha mempelajari ilmu pengetahuan itu ada dua; yaitu secara historis da dogmatis. Ilmu pengetahuan dipandang dari perspektif historis seakan-akan memaksa kita untuk menelusuri historisitas ilmu pengetahuan awal sampai akhir peradaban, begitu pula dari kontektualisasi sebuah ilmu dan mencoba untuk mengkonstruk ulang dalam peradaban sekarang, dalam artian berusah merelevansikan sebuah teori pada zaman sekarang. Sedangkan dilihat dari kacamata dogmatis akan membawa kita kepada pemahaman secara teor- teori ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Comte membagi sosiologi menjadi dua bagian yakni social static, suatu studi tentang hukum-hukum, aksi dan reaksi antara bagian-bagian suatu sistem sosial, dan social dynamics, teori tantang perkembangan dan kemajuan masyarakat manusia.
  2. Sosiologi pertama yang berusaha untuk mengaplikasikan pemikiran Augus Comte dalam sosiologi adalah Emile Durkheim, seorang sosiolog terkenal dan masih banyak teori-teorinya selalu dipakai oleh kebanyakan orang. Menurut Durkhem sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang dapat mengantarkan masyarakat menuju masyarakat yang berkeadilan serta humanis. Untuk menuju masyarakat yang berkeadilan, dia mengatakan bahwa tujuan yang seperti itu hanyalah akan diapat jika terjadi sebuah kesadaran kolektif diantara manusia yang satu dengan yang lainnya. Terbentuknya kesadaran kolektif tidak semudah membalikkan telapak tangan namun kesadaran itu muncul dari hati nurani karena adanya ekploitasi yang dilakukan pemerintahan ataupun kaum elit. Ekploitasi akan menyebabkan terjadinya sebuah revolusi bagi masyarakat yang telah mencapai kesadaran kolektif. Dalam rangka membina sosio kultural yang baik maka haruslah terjalin sebuah interaksi sosial dalam suatu masyarakat. Interaksi sosial tidak akan terbina dengan baik tanpa adannya kesadaran yang tinggi. Dengan begitulah emile Durkheim memaparkan suatu ilmu yan mengacu pada kesadaran kolektif sebagai sebuah kontuksi dalam memecahkan dan memberikan solusi terhadap patologi sosial yang menimpa masyarakat.
  3. Revolusi science menurut Thomas Khun hanyalah sebagai paradigma berpikir manusia baik individu ataupun golongan sehingga dia  mengatakan bahwa setiap ilmu pengetahuan pasti memiliki paradigma. Dalam cabang ilmu tertentu, Paradigma adalah pandangan ilmu pengetahuan tentang suatu pokok persoalan. Paradigma merupakan cara pandang terhadap dunia dan contoh-contoh prestasi atau praktek ilmiyah. Pengaplikasian terhadap sebuah teori merupakan sebuah manifestasi dari anggapan ilmiahnya sebuah karangan. Tidak jarang memahami sebuah teori hanya dipandang secara tektual namun –mau tidak mau- ketika mencoba untuk mengaplikasikan teori maka harus dipahami dengan kontek yang ada sehingga sangat diperlukan suatu kontruksi dalm mencari relevansi teori dalam kehidupan manusia dan bermasyarakat. Dengan adanya paradigam dialektika komunikasi ilmiah terlihat sangat dinamis dan menyenangkan sehingga muncullah demokratisasi dalam bermasyarakat dan berbangsa. Paradigma dapat juga membimbing kegiatan ilmiyah sehingga para ilmuwan mempunyai kesempatan untuk  menjabarkannya secara rinci sebuah teori dengan paradigmanya masing-masing. Dapat dikatakan paradigma akan membantu merumuskan apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan tergantung pada sosio politik dan sosio kultural yang ada. Dari beberapa hal yang sangat memerlukan paradigma itu, maka tidak heran kalau akhirnya paradigma akan menjadi panutan. Namun para ilmuwan ketika melakukan penelitian tidak jarang akan menemukan gejala-gejala yang tidak dapat dijelaskan dengan teori. Hal inilah yang disebut dengan anomali yaitu  suatu kekeliruan yang terjadi dalam paradigma. Karena penyimpangan tadi maka paradigma akan mengalami krisis.
  4. Menurut George Ritze ada tiga bagian paradigma :
    1. Paradigma Fakta Sosial.

Dilandasi oleh konsepnya Emile Durkheim, bahwa Fakta sosial dapat mempunyai wajah yang berbeda yaitu; dapat berupa norma, hukum, ideologi, cara bertindak, cara bepikir dan dapat juga merasakan suatu dat yang berada diluar manusia baik individu maupun kolektif, dat itu seakan-akan memaksa terhadap manusia karena dat dianggap sebagai suatu bentuk yang mengontrol manusia. Didalam fakta sosial metode eksperimen sangat sulit dilakukan maka metode yang dipakai adalah kualitatif dan kuantitatif

    1. Paradigma definisi Sosial

Berpijak pada teori yang dikembangkan oleh Max Weber yang mendipkripsikan teori tindakan sosial dapat melakukan beberapa hal antara lain; subyektif, interpretatif dan metodik. Teori tindakan yang dikembangkan oleh Weber sangat membantu mengembalikan kesadaran kolektif yang ada dalam tubuh manusia

    1. Paradigma prilaku sosial

Yang menjadi pokok persoalan dalam sosiologi adalah prilaku tindakan yang dilakukan setiap manusia antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk menuju masyarakat yang sosialis dan humanis maka harus menerima tentang keberadaan makhluk disekitarnya termasuk manusia selain dirinya. Teori masalah tindakan lebih banyak diproklamirkan oleh Max Weber sebagai patokan menuju masyarakat yang berkeadilan dan humanis. Untuk menerapkan teori itu maka sangat diperlukan sebuah eksperimen-eksperimen untuk menarik titik relevansi sebuah teori dalan sosio kultural yang sekarang.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s