ETIKA SUATU PENGANTAR

Posted: Mei 13, 2012 in filsafat
Tag:

 

 

 
   

 

Oleh: Suhermanto Ja’far

 

 

 

            Di era modern ini, ilmu pengetahuan, teknologi dan etika saling berkaitan satu sama lain. Ilmu pengetahuan sendiri muncul pada alam pikiran dimana manusia mulai mengambil jarak dengan alam sekitarnya, sehingga alam dapat dipelajari, dikalkulasi habis-habisan dan terakhir dimanfaatkan. Teknologi adalah setiap penjabaran praktis dan metodis dari ilmu pengetahuan, contoh: metode pembedahan dan pencangkokan anggota badan, ilmu organisasi sosial dan lain sebagainya. Ilmu dan teknologi sayangnya telah kebablasan  dengan tidak hanya memanipulasi kekuatan alam namun juga manusia itu sendiri. Persoalan-persoalan  etis muncul dari teknologi modern yang berkembang di dunia kedokteran seperti aborsi, euthanasia, life supporting support, dan lain sebagainya.

            Persoalan – persoalan tersebut menurut hemat saya tidak bisa dilepaskan dari  perkembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan manusia. Sebuah perkembangan yang membawa implikasi langsung pada persoalan – persoalan etis seperti yang sudah disebutkan di atas.  Permasalahan etika, oleh karena itu,  harus dilihat dari perspektif filsafat kebudayaan dan filsafat ilmu. Dalam dua bagian awal makalah ini saya akan mencoba menelusuri  kaitan antara etika dengan perkembangan kebudayaan, filsafat dan ilmu pengetahuan manusia.

            Permasalahan kontemporer menimbulkan pergeseran etika dari etika mikro yang berurusan dengan orang perorangan kepada etika makro yang berurusan dengan struktur-struktur masyarakat. Permasalahan baik-buruk sekarang tidak lagi sesederhana dulu, kompleksitas permasalahan memunculkan beberapa tugas baru dari etika yaitu:  (a) merintis jalan bagi kaidah-kaidah yang mengatasi terkungkungnya manusia dalam dunia etika (b) membuka evaluasi kritis terhadap segala sesuatu (c) membentuk tanggung jawab baru (d) merencanakan masyarakat kita sedemikian rupa sehingga kita belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang telah kita bangun sendiri.

            Problema etis yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup pesat memerlukan pemecahan berupa pemikiran – pemikiran segar dan kontemporer di bidang etika. Pemikiran di bidang etika diperlukan terutama karena hanya etika yang mempersoalkan: (a) ajaran moral, keseluruhan kaidah-kaidah moral (b) seluruh hidup perseorangan atau kelompok sejauh bersangkutan dengan bidang tanggung jawab (c) pengarahan yang benar kepada perbuatan.

            Di masa Yunani Kuno para filsuf seperti Thales, Anaximenes, Anaximander memusatkan kajian filosofis mereka  pada alam. Mereka mencari dasar (arkhe) dari alam semesta: asal usul atau prinsip dasar. Pengetahuan mereka pada waktu itu masih bersifat kontemplatif artinya mencoba menjelaskan alam semesta secara terpisah dari subyek yang mengamati. Sokrates yang muncul kemudian mencoba mengalihkan perhatian dari alam semesta kepada manusia terutama permasalahan etika tentang bagaimana hidup dalam keutamaan. Di masa Socrates inilah muncul perbedaan tegas antara ilmu pengetahuan dan etika. Perbedaan tersebut kemudian dikembangkan oleh Aristoteles. Aristoteles mengatakan dalam Metaphysics bahwa semua aktivitas intelektual terbagi tiga kategori: produktif, praktis dan spekulatif. Disiplin – disiplin ilmu yang termasuk kategori produktif adalah berbagai seni dan kerajinan. Disiplin – disiplin yang termasuk kategori praktis adalah etika, politik, dan ekonomi yang semuanya berurusan dengan manusia. Sedang disiplin – disiplin yang termasuk kategori spekulatif adalah matematika, fisika, dan metafisika yang mana kesemuanya berurusan dengan alam. 

            Tradisi yang diawali oleh Socrates telah membagi filsafat menjadi pengetahuan tentang alam dan pengetahuan tentang manusia dimana sifat keduanya berbeda satu sama lain. Ilmu alam bersifat kontemplatif yaitu sebisa mungkin menghindari unsur – unsur subyektif seperti perasaan, kecenderungan, dogma, dalam upaya memetakan alam seobyektif mungkin (sebagaimana adanya). Sebaliknya, Ilmu tentang manusia khususnya etika bersifat praktis yaitu mengolah dimensi batin manusia untuk kepentingan kehidupan manusia yang lebih baik.

 

Skema:                                                Filsafat

 

 
   

 

    pengetahuan tentang alam                                           pengetahuan tentang manusia

 

       
       

 

 

 

    fisika                    metematika                                  logika                    Etika

 

Pemisahan antara pengetahuan alam dan manusia berkembang secara berat sebelah setelah para filsuf pencerahan seperti Francis Bacon, Rene Descartes, Imanuel Kant, dan David Hume menempatkan etika sebagai subordinat dari ilmu – ilmu alam. Kebsahan ilmu pengetahuan diukur dari obyektifitas, kepastian, dan rasionalitas. Rasionalitas sebagai satu kriteria keabsahan ilmu telah membatasi diri pada penalaran deduktif maupun induktif, observasi, dan bebas nilai hal – hal yang justru tidak bisa diterapkan pada etika. Rasionalitas yang dikembangkan Descartes membatasi pengetahuan pada ide – ide yang jernih dan gamblang dan melihat segala sesuatu secara geometris bahkan Tuhan. Sedang Kant membatasi rasionalitas pada fenomena (apa yang tampak) dan mengasingkan kekayaan batin manusia  pada dunia noumena (benda dalam dirinya sendiri) yang tak terjangkau indra. Kant mengemukakan pemikirannya tentang etika namun etika yang dihasilkannya adalah etika yang abstrak, mengawang dan tidak mempertimbangkan situasi – situasi konngkrit yang dihadapi manusia.

            Pemikiran etika yang telah termarjinalisasi semakin sekarat dengan  hantaman berat dari David Hume yang kemudian dikukuhkan oleh kaum positivisme. Hume mengatakan bahwa pengetahuan etika bersifat subyektif yakni sekedar menunjukkan ketidasetujuan pengamat atas suatu tindakan yang dilihatnya. Pengetahuan etika sama sekali tidak bisa dikenakan status Ilmu pengetahuan karena:  (1) tidak dapat diasalkan dari sensasi inderawi: Hume mengatakan bahwa ia bisa melihat pisau sang pembunuh menembus perut korbannya dan darah mengucur deras membasahi lantai namun ia tidak bisa melihat dimana letak kejahatannya. (2) pernyataan etika (pernyatan yang mengandung kata ‘seharusnya’) tidak dapat diturunkan dari pernyataan faktual (pernyataan yang mengandung kata ‘adalah’) contoh: pernyataan: ‘Joni harus dihukum’ tidak bisa diturunkan dari pernyataan ‘Joni adalah pencuri’ karena sesuai denngan hukum logika kesimpulan dari premis mayor dan premis minor yang sifatnya faktual haruslah juga berupa pernyataan faktual: premis mayor: semua manusia mati, premis minor: Socrates adalah manusia maka kesimpulan harus berbunyi socrates mati (is) bukan Socrates seharusnya mati (ought).

             Hantaman terhadap etika paling kontemporer yang terjadi di abad 20 berasal dari aliran Neo Positivisme dimana dasar pemikiran mereka adalah  pemikiran Hume  tentang sensasi inderawi sebagai satu  – satunya sumber pengetahuan. Neo Positivisme mengajukan kriteria bahwa proposisi secara kognitif bermakna jika ia memenuhi satu dari dua kriteria: (a) pernyataan harus secara analitis benar secara definisi / tautologis (pernyataan analitik) contoh: ‘bujangan adalah pria yang belum menikah’ (b) pernyataan  harus dapat dijustifikasi secara empiris (pernyataan sintetik) contoh: ‘Aten adalah anak muda yang cerdas’. Kriterium demarkasi yang diajukan positivisme logis membuat pernyataan-pernyataan etika berguguran.

            Kriterium demarkasi yang diajukan juga membuat pernyataan-pernyataan etis menjadi tidak bermakna. Pernyataan moral: menyiksa anak itu salah (sintetik) tidak bisa dibenarkan secara definisi / tautologis maupun secara empiris. Akibatnya, pernyataan tersebut tidak benar juga tidak salah, ia hanya mengekspresikan emosi berupa ketidaksetujuan pembicara terhadap tindakan penyiksaan. Para pemikir positivisme logis yang mengembangkan pemikirannya di bidang etika antara lain: Moritz Schlick, Rudoph Carnap, dan A.J. Ayer.

            Tradisi filsafat barat yang diskriminatif terhadap pengetahuan etika dibakukan oleh Hume  dan dijadikan doktrin oleh Neo Positivisme. Mereka telah mereduksi pengetahuan etika menjadi  permasalahan terverifikasi – tidak terverifikasi, subyektif – obyektif, fakta – nilai, dan lain sebagainya. Sebuah reduksi yang mengeringkan keseluruhan pengalaman manusia menjadi pengalaman inderawi semata, pengetahuan manusia menjadi pengetahuan ilmiah – obyektif, dan kepentingan manusia menjadi kepentingan prediksi, kontrol teknis semata.

            Kepentingan praktis-moral telah termarjinalisasi dari diskursus ilmu pengetahuan sejak Francis Bacon mengemukakan tesisnya  yang cukup terkenal yang  berbunyi: ‘Ilmu pengetahuan adalah kuasa!’. Bacon menitikberatkan kepentingan pengetahuan pada kepentingan untuk mendapatkan gambaran tentang alam seobyektif mungkin dan oleh karena itu terdapat empat nilai – nilai subyektif (idola)  yang harus dihindari dalam mengupayakan pemahaman yang jernih tentang alam semesta. Ilmu pengetahuan hanya berurusaan dengan pemetaan alam sejernih mungkin, manusia sebagai subyek pengamat harus mengorbankan semua nilai – nilai subyektif yang dianutnya demi tercapainya  hal tersebut.

Begitu seorang manusia dilahirkan ia langsung berhadapan dengan realitas yang tidak dihadapi oleh komunitas non-manusia yaitu realitas moral. Seorang anak, misalnya, menghadapi suatu realitas moral yang didalamnya terdapat ratusan aturan apa yang boleh dan tidak boleh ia kerjakan. Misalnya, seorang ibu akan langsung menghardik anaknya ketika ia merebut mainan temannya. Menurut seorang ahli psikoanalisa, Sigmund Freud, aturan – aturan yang dibenamkan dalam benak si anak akan menjadi semacam superego yang akan terbawa sampai sang anak dewasa. Superego berfungsi sebagai nilai – nilai ideal yang menekan instink – instink seksual dan agresi manusia.

Permasalahan baik-buruk  merupakan permasalahan yang dihadapi oleh semua manusia dimana saja dan kapan saja. Di kantor misalkan kita akan menghadapi dilema saat atasan meminta kita berterus terang akan korupsi yang dilakukan sahabat karib yang telah banyak menolong kita. Permasalahan baik dan buruk telah menjadi kajian filsofis para filsuf sejak  para filsuf Yunani Kuno sampai kontemporer. Etika sendiri berasal dari kata Yunani ethos yang dalam bentuk jamak (ta etha) yang berarti adat kebiasaan. Begitu terpesonanya para filsuf terhadap etika sampai – sampai seorang filsuf Jerman bernama Imanuel Kant berkata: ‘Ada dua hal yang mengherankanku, pertama adalah langit berbintang di atas kepalaku dan kedua adalah hukum moral di batinku. Persoalan etika memang telah lama menjadi kajian filosofis namun Kant – lah yang mulai memisahkannya dari kajian metafisika, dan epistemologi. Etika menjadi salah satu bagian dari sistematika filsafat berkat pertanyaan Kant: ‘apa yang dapat saya lakukan?’. Dua pertanyaan Kant yang lain seperti: ‘apa yang dapat saya ketahui’ dan ‘apa yang saya dapat harapkan’ masing – masing menjadi cabang filsafat yang mengkaji masalah pengetahuan dan ‘ada’.

 

Sistematika Filsafat:

Pertanyaan Kant:                                                                     wilayah kajian

Apa yang dapat saya lakukan?                                                nilai – nilai                 (1)

Apa yang dapat saya ketahui?                                                 pengetahuan               (2)

Apa yang dapat saya harapkan?                                              ada                              (3)

 

                                                                     1. Being Meliputi Ontologi dan Metafisika

                                                                     2.Konowing meliputi : Epistemologi, Filsafat Ilmu, Metodologi dan Logika

                                                                     3. Valueing meliputi Etika dan Estetika

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

            2. Knowing

 

       
   
     
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari sistematika kita mengetahui bahwa etika merupakan cabang filsafat yang menjadi bagian dari wilayah nilai (values) bersama – sama dengan estetika. Etika dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mengkaji  secara rasional, kritis, reflektif dan radikal persoalan moralitas manusia.

            Perbedaan etika dengan cabang filsafat yang lain adalah ia membahas ‘yang harus dilakukan’ sedangkan yang lain hanya membahas ‘yang ada’. Oleh karena itu Etika sering disebut filsafat praktis, praktis karena cabang ini langsung berhubungan dengan perilaku manusia dengan yang harus atau tidak boleh dilakukan manusia (Bertens, 1994). Permasalahannya,  kata ‘praktis’ disini tidak berarti siap pakai melainkan refleksif. Dalam etika kita menganalisa tema – tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, tanggung jawab, nilai, norma, hak, kewajiban, dan keutamaan yang kesemuanya masih bersifat umum  sehingga  memerlukan derivasi (penurunan)  untuk diterapkan pada kasus – kasus partikular.

 

Jenis Etika

            Persoalan etika bisa didekati dan dikaji melalui berbagai metode. Dalam etika terdapat empat pendekatan dimana dua diantaranya bersifat non normatif dan dua lainnya bersifat normatif. Pendekatan non normatif tidak berpretensi apapun selain sekedar  mendeskripsikan dan menganalisa moralitas, pendekatan non normatif tidak melibatkan penilaian moral.  Sebaliknya  pendekatan normatif justru melibatkan penilaian moral.

            Jenis etika yang melakukan pendekatan non normatif antara lain: etika deskriptif dan metaetika,  sedang jenis etika yang melakukan pendekatan normatif adalah etika normatif umum dan etika terapan

A. Pendekatan non normatif

  1. etika deskriptif
  2. metaetika

B. Pendekatan normatif

  1. etika normatif umum
  2. etika terapan

            Etika dekriptif merupakan pendekatan non normatif terhadap moralitas yang mendeskripsikan dan menjelaskan secara faktual (apa yang ada) perilaku dan keyakinan –keyakinan moral. Ahli-ahli antropologi, sosiologi dan sejarah yang mempelajari perilaku moral menggunakan pendekatan etikla deskriptif  ketika mereka mengkaji perilaku,  kode – kode, dan keyakinan – keyakinan moral yang berbeda dari orang ke orang dan masyarakat ke masyarakat. Dalam melakukan pengkajian, misalnya, seorang ahli antropologi tidak boleh menilai suatu perilaku moral suku yang ditelitinya dengan kriteria moral yang dimilikinya.

            Metaetika merupakan pendekatan non normatif lainnya yang melibatkan analisa makna dari istilah – istilah sentral dalam etika seperti ‘hak’, ‘kewajiban’, ‘kebaikan’, ‘keutamaan’, dan ‘tanggung jawab’.  Metaetika mengkaji logika khusus dari ucapan – ucapan etis misalnya, apakah kata ‘baik’ dalam kalimat: ‘mendonorkan anggota tubuh adalah baik’ sama dengan kata ‘baik’ dalam kalimat: ‘mobil saya dalam keadaan baik’, apakah pernyataan preskriptif: ‘saya harus menghormati orang tua saya’ dapat diturunkan dari pernyataan deskriptif: ‘lelaki itu adalah orang tua saya.’ dan lain sebagainya

            Etika normatif umum merupakan jenis etika yang berupaya memformulasikan dan mempertahankan prinsip – prinsip dasar dan keutamaan yang mengatur kehidupan  moral. Etika normatif umum mencakup beberapa teori etika yang masing – masing menyediakan keseluruhan sistem prinsip – prinsip moral dan alasan – alasan untuk mengadopsinya. Dalam berbagai teori etika prinsip – prinsip seperti otonomi, keadilan, dan kebaikan memainkan peranan yang cukup penting.

            Prinsip – prinsip yang ditemukan dalam etika normatif umum pada umumnya diterapkan pada problem – problem moral kongkrit seperti: aborsi, euthanasia, kelaparan, diskriminasi seksual, pornografi, dan penelitian yang melibatkan obyek manusia. Jenis etika yang berupaya aplikatif terhadap masalah – masalah kongkrit manusia  ini disebut etika terapan. Etika terapan menurunkan prinsip – prinsip abstrak etika umum untuk diterapkan pada masalah – masalah kongkrit. Seorang dapat menggunakan prinsip keadilan, misalnya, untuk menyelesaikan permasalahan etis di bidang perpajakan, layanan kesehatan, distribusi, hukuman bagi kriminal, dan lain sebagainya

            Seperti telah disebutkan di atas, permasalahan – permasalahan etis kongkrit manusia memerlukan etika terapan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi. Problema etis yang diakibatkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan memerlukan pemikiran segar dari para ahli etika terapan. Berbagai jenis etika terapan dewasa ini telah cukup berkembang dan mendapat perhatian yang cukup serius dari beberapa ahli filsafat di Indonesia  (Frans Magnis Suseno: etika politik, K. Bertens: etika biomedis).

            Dalam kehidupannya  manusia sering dihadapkan pada permasalahan etis kongkrit yang  seperti tidak ada habis – habisnya. Berbagai problema etis yang berbeda menghasilkan berbagai jenis etika terapan yang berbeda pula. Berbagai jenis etika terapan antara lain: etika biomedis, etika lingkungan, etika profesional, etika akademis dan etika politik.

 

 

 

OoO Rechan OoO

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s