Biografi Karl Mark

Posted: Mei 13, 2012 in filsafat
Tag:
  1. A.  Seorang Filosof-Ekonom Berwatak Sosialis; Biografi Karl Marx

Karl Marx, yang bernama lengkap Karl Heinrich Marx, lahir pada tanggal 5 Mei 1818, di kota Trier, yang terletak di tepi sungai Rhein, Prusia, Jerman Ayahnya yang bernama Heindrich Marx adalah seorang pengacara yang hidup berkecukupan. Selain itu, ayah Marx juga merupakan seorang keturunan Rabi-rabi Yahudi, yang konon dari mereka inilah Karl Marx mewarisi otak yang luar biasa.

Pada waktu Marx masih kecil, kurang lebih pada waktu ia masih berusia 6 tahun, yakni tepatnya pada tahun 1824 ayahnya melakukan konversi agama, dari agama Yahudi yang dianut sebelumnya, menjadi agama Kristen Protestan. Padahal, mayoritas penduduk Trier –saat itu—beragama Katolik. Konversi tersebut, kemungkinan dilakukannnya agar ia bisa menjadi pegawai negeri –tepatnya menjadi seorang notaris—di Prusia, yang memiliki haluan Protestan. Sedangkan Ibu Karl Marx sendiri, baru menyusul suaminya masuk Protestan 8 tahun kemudian. Akhirnya, seluruh keluarga Marx, dibaptiskan untuk pindah dari agama Yahudi menjadi agama Kristen Protestan. Perpindahan agama inilah yang pada akhirnya sangat mempengaruhi jiwa Karl Marx.

Setelah Karl Marx lulus dari Gymnasium di kota Trier, ayahnya menyuruh Marx untuk melanjutkan studi di bidang hukum, supaya Marx dapat mengikuti karier sang ayah. Tetapi marx sendiri ternyata tidak tertarik terhadap kemauan ayahnya tersebut, dan dia lebih berminat untuk menjadi seorang penyair, untuk itu selama satu semester di Bonn, ia hanya bermain-main dan menghabiskan uang kiriman ayahnya. Selanjutnya Marx pindah ke Berlin pada tahun 1836, dan mulai belajar filsafat diuniversitas Berlin, yang pada waktu itu sangat identik dengan filsafat Hegel.

Bersamaan dengan pindahnya Karl Marx ke Berlin, kondisi politik di Prusia semakin reaksioner. Undang-undang dasar yang sesudah era Napoleon memberikan banyak kebebasan kepada rakyat, dihapus kembali. Selain itu, posisi Pers pun kembali ditempatkan di bawah kontrol sensor, dan guru-guru besar di universitas-universitas mendapat pengawasan ketat dan kalau terlalu liberal di tahan.

Karl Marx muda yang resah dengan keadaan di Prusia menemukan dalam filsafat Hegel senjata intelektual yang nantinya akan menentukan arah pemikirannya. Apalagi, di Berlin pada waktu itu terdapat sekelompok intelektual muda yang kritis dan radikal, yang menemakan dirinya klub para doktor. Namun demikian, walaupun pada waktu itu Karl Marx masih duduk di semester dua, ia sudah masuk dalam komunitas tersebut. Kelompok ini –yang pada akhirnya juga dikenal sebagai komunitas Hegelian muda tersebut—memakai filsafat Hegel sebagai alat untuk mengkritik kekolotan yang terjadi di Prusia.

Pada tahun 1841, Karl Marx dipromosikan menjadi doktor filsafat oleh universitas Jena, dengan disertasinya yang berjudul On the Differences Between the Natural Philosophy of Democritus and Epicurus  (1841), di mana melalui disertasinya tersebut, Karl Marx sebenarnya mulai menyerang –mengkritik– eksistensi agama. Disertasi tersebut –terutama pada bagian pengantarnya—menampakkan arah pemikiran Marx yang sangat terkesan dengan pemikiran-pemikiran Hegel, walaupun di sisi lain ia sebenarnya agak terganggu oleh pertanyaan bahwa kondisi masyarakat Prusia waktu itu merupakan kebalikan dari masyarakat rasional dan bebas, sebagaimana yang digagas oleh Hegel. Atas pertanyaan tersebut, Marx dan kawan-kawannya memberikan jawaban bahwa Hegel hanya merumuskan pemikiran an sich, dan yang masih diperlukan adalah bagaimana pemikiran-pemikiran Hegel tersebut dapat terrealisasi dengan nyata. Dengan kata lain, yang perlu digagas selanjutnya adalah bagaimana teori tersebut kemudian bisa menjadi sebuah hal yang bersifat praktis. Menurut Marx, pemikiran harus dapat menjadi pendorong bagi perubahan sosial. Pada titik inilah dapat disimpulkan bahwa Marx memiliki cita-cita menjadikan filsafat sebagai sebuah kekuatan revolusioner.

Setelah lulus promosi Marx pindah dari Berlin ke Bonn, dengan harapan akan mendapatkan pekerjaan sebagai dosen. Di Bonn Marx menjumpai sahabatnya yang bernama Bruno Baeur, yang sebelumnya telah menjadi asisten Profesor. Namun tidak lama kemudian, sebuah peristiwa yang menyedihkan terjadi, yang berupa pemecatan Bruno dari jabatannya, akibat buku-bukunya yang terbit di Leipzig, yang isinya dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran Gereja. Akibat peristiwa itu, akhirnya Marx memilih pindah ke Cologne, dan menjadi pemimpin redaksi disebuah harian liberal progressiv yang bernama Die Rheinische Zeitung. Namun karena terus-menerusmen dapat kesulitan dari badan sensor pemerintah Prussia, Marx terpaksa melepaskan jabatannya. Setelah itu, Marx kemudian pindah ke kota Paris, Prancis. Di sana ia kemudian menikah dengan seorang wanita keturunan bangsawan, bernama Jenny Von Westpalen. Bersamaan dengan itu, Marx juga mulai menulis Critique of Hegel’s Philosophy of Right, serta juga menulis dua buah artikel yakni yang berjudul Introduction dan On the Jewish Question. Melalui tiga tulisannya tersebut tampak adanya perkembangan baru dari pemikiran Marx, bila dibanding dengan disertasinya, di mana pada titik ini dapat dilihat bahwa pemikiran-pemikiran Marx juga mulai dipengaruhi oleh pendapat-pendapat Ludwig Feurbach.[1] Selain tiga tulisan tersebut, karya Marx yang lain adalah tulisan yang merupakan kritiknya terhadap sistem kapitalisme, yang kemudian dikenal dengan sebutan the Paris Manuscript atau Economic and Philoshopical Manuscript of 1944, yang baru diterbitkan di awal abad ke-20.

Pengaruh Filsafat Feurbach pada masa setelah Marx pindah ke Paris tersebut, tampak sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran Marx secara mendalam. Sosok Feurbach dirasakan oleh Marx telah mampu membuka matanya, sekaligus juga menjadi inspirasi munculnya pandangan bahwa filsafat Hegel yang murni berada di dataran teoritis merupakan ungkapan keterasingan (alienasi) manusia dari dirinya sendiri, di mana keterasingan tersebut, menurut Feurbach, terungkap dalam agama. Pada bagian ini, Marx menerima interpretasi –Feurbach—tersebut, sekaligus ia juga menambahkan bahwa agama hanya merupakan keterasingan yang bersifat sekunder. Sedangkan keterasingan yang bersifat primer –menurut Marx—adalah keterasingan individual dari hakikatnya yang sosial, sebagaimana yang terjadi dalam individu-individu manusia modern. Marx menambahkan bahwa salah satu tanda munculnya keterasingan manusia dari sifatnya yang sosial adalah eksistensi negara sebagai lembaga yang berwatak represif.

Tetapi kemudian muncul pula pertanyaan dalam diri Marx, yaitu mengapa manusia mengasingkan diri dari hakikatnya yang sosial ?. Jawaban atas pertanyaan tersebut ternyata mulai disadari oleh Karl Marx, ketika ia bertemu dan mulai berinteraksi dengan tokoh-tokoh sosialis. Pada masa ini, Marx juga mulai berkenalan dengan Friedrich Engels (1820-1895), yang nantinya akan menjadi salah satu sahabat Karibnya. Dari Engels Marx belajar tentang pentingnya peranan faktor-faktor ekonomi terhadap perkembangan masyarakat. Di Paris pula, Marx untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan persoalan-persoalan yang membelenggu kaum buruh industri, yang kelak turut mengantarnya menjadi seorang sosialis, dalam arti bisa menerima anggapan dasar kaum sosialis yang menyatakan bahwa segala akar semua persoalan sosial muncul dari kepemilikan pribadi.

Namun demikian, setelah beberapa saat tinggal di Paris, Marx kemudian diusir oleh pemerintah setempat atas permintaan pemerintah Jerman, sebagai akibat tulisan-tulisan Marx sebelumnya yang dianggap berbau agitasi dan dinilai telah membahayakan. Karena pengusiran itu, Marx kemudian hijrah ke Brussel bersama keluarganya. Selama di Brussel inilah Marx semakin intensif mendalami studi ekonomi dan menjalin kontak dengan organisasi-organisai buruh, dan juga rajin melakukan diskusi-diskusi serta terlibat langsung dalam protes-protes –demonstrasi– yang dilakukan kaum buruh. Di tengah-tengah aktifitasnya tersebut, Marx juga masih menyempatkan diri untuk menulis pamflet dan buku-buku filsafat, diantaranya adalah buku yang berjudul Theses on Feurbach yang kemudian dikenal sebagai masterpieces pemikiran Marx, yang berisikan pokok dan watak filsafatnya.

Namun, seiring dengan meletusnya revolusi liberal di Eropa –yang pengaruhnya meluas hingga ke Brussel—, pemerintah Belgia kemudian mengusir Marx karena menilai keberadaanya dapat memberikan pengaruh yang membahayan, terutama pengaruh kepada kaum buruh, mengingat revolusi tersebut dimotori oleh kaum buruh. Selanjutnya Marx tinggal di London hingga akhir hayatnya. Ia meninggal pada tanggal 14 Maret 1883, di mana pemakamannya dihadiri oleh Engels, yang menyempatkan diri memberikan pengantar dengan menyatakan bahwa “….. orang yang paling dibenci, tetapi paling dikasihi dari segala orang pada zamannya.”       

Selain dikenal sebagai sosok filosof, semasa hidupnya Marx juga dikenal sebagai seorang ahli ekonomi, di mana buku yang berjudul Das Kapital banyak disebut-sebut sebagai karyanya yang paling monumental dalam bidang ini. Selain itu, banyak juga disebut bahwa Marx –melalui karyanya yang ditulis bersama Engels, yang berjudul Mannifest der Kommunistichen Partei– merupakan salah seorang peletak dasar bangunan ideologi komunis.

 

  1. B.   Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis; Epistemologi Pemikiran Karl marx
    1. 1.    Materialisme Dialektis

Istilah Materialisme dialektis sebenarnya mulai populer setelah Karl Marx dan Engels meninggal, di mana yang mempopulerkannya adalah seorang pemikir komunis berkebangsaan Rusia bernama G.V. Plekhanov. Materialisme dialektik secara sederhana dapat pula dimaksudkan sebagai pandangan yang menyeluruh terhadap dunia. Dalam logika klasik, dialektik berarti suatu metode diskusi dan sebuah cara tertentu dalam berdebat, yang di dalamnya terdapat ide-ide kontradiktif serta pandangan-pandangan yang bertentangan. Masing-masing pandangan itu berupaya menunjukkan titik-titik kelemahan dan kesalahan yang ada pada lawan bicaranya, berdasarkan pengetahuan-pengetahuan dan proposisi yang sudah diakui. Sedangkan dalam logika modern, perdebatan bukan lagi merupakan sebuah metode pembahasan dan cara pandang tertentu untuk bertukar pendapat, melainkan telah menjelma menjadi sebuah metode untuk menjelaskan realitas hukum umum alam yang berlaku dalam berbagai realitas dan macam-macam eksistensi. Inti dari ajaran materialisme dialektika yang diajarkan oleh Marx adalah pemutlakan terhadap unsur materi, yang bergerak dalam lingkup simulakrum. Dengan kata lain, ajaran tersebut dapat pula dimaknai sebagai pengakuan terhadap ‘menjadi (becoming) yang ada’ tanpa suatu sebab. Kontradiksi atau pertentangan yang terjadi di alam –yang dikukuhkan oleh teori ini–, menurut Marx hanya bisa menjadi syarat kemungkinan perkembangan yang lebih jauh, tanpa dapat dijadikan sebagai landasan perkembangan yang memadai. Karena itu, roh manusia tidak dapat menjadi produk perkembangan alam secara murni, yang naik dari dataran yang lebih rendah menuju dataran yang lebih tinggi, karena roh manusia mengandaikan suatu sebab yang memadai, supaya bekerja di dalam alam in-organis dan alam organis.

Selain itu, materialisme dialektika juga berpegang pada konsep perjuangan sebagai prinsip pokok dalam segala sesuatu. Prinsip tersebut menyatakan bahwa semua benda dipandang berjuang untuk menjadi ‘yang lain’, berjuang untuk tetap ‘ada’ dan berjuang untuk melenyapkan ‘yang lain’. Tiada suatupun yang dapat mencukupi dirinya sendiri dan dapat hidup terasing dari yang lain (diri yang otonom). Dengan demikian, terlihat jelas bahwa materialisme dialektika berpegang pada konsep persatuan dan keberhubungan, yang merupakan sesuatu yang niscaya, sebagai rasionalisasi dari segala benda di dunia.

Pada tingkatan ontologis, materialisme dialektis hanya mengandaikan realitas objektif dari dunia material murni. Dalam hal ini, definisi yang dikemukakan oleh Lenin –mengenai materi–, dianggap sebagai defini yang menarik, walaupun terdapat kontradiksi pokok yang terdapat dalam definisi tersebut. Defini yang dikemukakan oleh Lenin, sebagaimana yang dikutip oleh Lorens Bagus adalah sebagai berikut:

Materi merupakan kategori filosofis yang digunakan untuk menunjukkan realitas objektif. Materi diberikan kepada manusia dalam prinsipnya. Materi itu disalin, difoto dan digambarkan oleh persepsi itu, tetapi materi itu tidak tergantung pada persepsi manusia. Satu-satunya ciri khas materi yang cenderung diakui oleh materialisme dialektis adalah menjadi realitas objek, berada di luar kesadaran kita.

Dalam pemikiran-pemikiran marxisme, materialisme dialektis dipakai sebagai pembenaran filosofis yang bersifat tentatif (sementara) terhadap tesis ekonomi dan politik Karl Marx. Teori ini dikerjakan dan dirumuskan –terutama– oleh Feidrich Engels. Kalau materialisme historis mencoba membuktikan materialisme (kebendaan) dan karenanya juga berusaha membuktikan keniscayaan sejarah manusia hingga pada tarap komunisme, Materialisme dialektis tidak ragu-ragu lagi memutlakkan materialitas semua eksistensi. Dengan cara ini semua bentuk keraguan terhadap penjelasan materialisme tentang sejarah, akan dialihkan kepada dasar-dasar ontologis.

 

  1. 2.    Materialisme Historis

Sejarah munculnya materialisme historis yang merupakan inti dari pemikiran Karl Marx dimulai pada tahun 1845, ketika seorang yang bernama Max Stirner menerbitkan sebuah buku yang berjudul Der Einzige Und Sein Eigentum. Buku tersebut berisikan tulisan Stirner yang mengejek pemikiran semua filosof yang memiliki cita-cita luhur membebaskan manusia dari keterasingan (alienasi). Tulisan dalam buku tersebut oleh Marx dirasakan seperti sengatan lebah karena Stirner menunjukkan bahwa idealisme semacam itu pada hakikatnya sama dengan idealisme yang dimiliki oleh kaum agamawan yang mereka benci. Menurut Stirner, idealis masih memiliki ukuran ideal dan terhadap hal itulah mereka tunduk.

Kritik Stirner tersebut membuat Marx berubah haluan. Ia mulai berhenti berbicara tentang alienasi dan hakikat manusia, dan selanjutnya ia mulai mengerahkan tenaganya untuk membuktikan sosialisme yang diklaimnya sebagai sosialisme ilmiah. Marx kemudian tidak habis-habisnya menegaskan bahwa sosialisme –yang sebenarnya juga demi emansipasi manusia– akan datang bukan karena keinginan manusia, tetapi sosialisme akan datang karena sejarah.[2] Lebih jauh Marx juga menambahkan bahwa sejarah umat manusia sejak jaman primitif, dibentuk oleh faktor-faktor kebendaan.

Sikap dan pandangan Marx yang demikian itulah yang kemudian melahirkan Materialisme Historis, sebagaimana yang sudah jelas termuat dalam Deutsche Ideologi yang diterbitkan pada tahun 1846. dalam tulisan tersebut Marx menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat akan ditentukan oleh faktor ekonomi, bahwa negara serta ideologi (agama) dan juga ilmu, hanyalah merupakan bangunan atas, bahwa bidang ekonomi ditentukan oleh pertentangan antar kelas pemilik dan kelas pekerja. Kemudian pertentangan itu akan menjadi sesuatu yang radikal dalam sistem kapitalisme, bahwa kapitalisme akan hancur dengan sendirinya dalam revolusi sosial, bahwa revolusi sosialis akhirnya akan berhasil menciptakan masyarakat tanpa kelas, tanpa banguan atas, tanpa penghisapan, yang sekaligus akan menandai berakhirnya jaman pra sejarah umat manusia dan menandai pula lahirnya kerajaan kebebasan.

Beberapa unsur pokok dari materialisme historis yang dikemukakan oleh Karl Marx diantaranya adalah bahwa dinamika sejarah akan ditentukan oleh dialektika pada basis material. Refleksi Marx tersebut berangkat dari realitas terdapatnya keterasingan (alienasi) yang menimpa manusia khususnya pada bidang ekonomi. Sedangkan objek pencarian materialisme, menyangkut perkembangan masyarakat insani yang paling universal, atau yang juga bisa dikatakan sebagai keunggulan eksistensi sosial atas kesadaran sosial. Selain itu, materialisme historis juga mengajarkan bahwa dasar-dasar perkembangan sosial adalah produksi, pertukaran dan konsumsi. Atau lebih jelasnya, bahwa eksistensi sosial akan menghasilkan kesadarana sosial, unsur-unsur eksistensi sosial merupakan kekuatan produktif yang terdiri dari tenaga manusia dan mesin-mesin serta kondisi-kondisi produksi yang biasanya lebih dikenal dengan istilah basis ekonomi. Sementara supra-struktur yang berupa gagasan-gagasan politis, yuridis, ilmiah, filosofis dan artistik serta religius beserta lembaga-lembaga yang terkait dengannya, termasuk dalam unsur kesadaran sosial.

Dalam pandangan Marx, gagasan-gagasan yang termasuk dalam supra-struktur tersebut –yang dianggapnya hanya sebagai refleksi produksi–, tidak memiliki kekuatan untuk menciptakan sejarah. Salah satu contoh yang digambarkan oleh Karl Marx adalah agama yang dikatakannnya sebagai candu masyarakat, yang merupakan bentuk reaksi dari aksi yang memiliki tujuan untuk membungkam kaum tertindas dari keinginan mengadakan revolusi dengan memberikan harapan-harapan yang bersifat maya.

Paham materialisme Marx tersebut kemudian menjadi dasar intelektual konsep determinasi ekonomi dalam sejarah. Selain itu, pemikiran Marx itu pula yang kemudian juga dijadikan sebagai dasar klarifikasi terhadap sejarah peradaban eropa dalam 4 periode yaitu periode primitif, perbudakan, feodalisme dan kapitalisme, di mana periode sejarah yang terakhir yaitu kapitalisme, merupakan masa transisi kepada jaman yang mengarah kepada terbentuknya diktator ploteriat. Berdasarkan gagasan-gagasan di atas, Karl Marx dan Engels, sebagaimana ditulis oleh Ahmad Suhelmi, kemudian merumuskan beberapa premis teoritis yang selanjutnya menjadi inti pemikiran materialisme historis, premis itu ialah:

  1. Sebab-sebab terjadinya perubahan dan proses sejarah harus dilacak dalam bentuk-bentuk dan cara produksi ekonomi masyarakat, dan bukan dalam gagasan-gagasan atau filsafat. Sebab bukanlah cara berpikir manusia yang menentukan sejarah dan perubahan sosial, melainkan ditentukan oleh bagaimana hubungan produksi materialnya. Marx berpendapat bahwa keberadaan sosial masyarakat akan menentukan kesadaran sosialnya.
  2. Tiap masyarakat selalu dicirikan dengan adanya infra struktur dan supra sturktur. Dalam pandangan Marx, Infra sturktur yang akan menentukan supra-sturktur dan bukan sebaliknya.
  3. Perubahan disebabkan oleh adanya antagonisme, kontradiksi kelas sosial atau proses dialektis antara kekuatan-kekuatan dan hubungan-hungan manusia.
  4. Konrtadiksi antara kekuatan-kekuatan dan hubungan-hubungan produksi tersebut termanifestasikan ke dalam bentuk pertentangan kelas. Menurut Marx, konteks kelas ini berlaku dalam sebuah sejarah manusia.             

              

 

          

Hegel merupakan seorang filosof yang menjadi profesor pada tahun 1818, dan wafat pada tahun 1831. Filosof ini sangat termasyhur dengan filsafat politik yang diajarkannya. Selain itu, Hegel juga terkenal sebagai filosof yang menempatkan rasionalitas dan kebebasan sebagai sebuah nilai tertinggi

 

Awal persahabatan abadi antara Marx dan Engels ini ditandai dengan penulisan buku bersama, suatu hal yang masih langka di kalangan cendekia pada waktu itu. Buku yang berjudul Die Heilige Famili (the Holy Famili) tersebut ditujukan untuk sahabat Marx yakni Bruno Bauer dan adiknya Edgar Bauer. Lihat, 39


 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s