Bekas-bekas Dekonstruksi Derrida

Posted: Mei 13, 2012 in filsafat
Tag:

Saya sangat kecewa dengan penggunaan kata ‘dekonstruksi’. Saya merasa telah terjadi eksploitasi atas istilah itu.” Suaranya meninggi. “Pada akhirnya, mahasiswa yang baru lulus menggunakan kata dekonstruksi sebagai stereotipe untuk menghancurkan, untuk merusak, untuk mengasari…” Jacques Derrida, si pengeluh itu, adalah orang yang memperkenalkan istilah “dekonstruksi” yang sangat terkenal, sekaligus paling banyak disalahkaprahi, di ranah filsafat dan kritik sastra. Tentu wajar bila dia dalam sebuah artikel di New York Times edisi 30 Mei 1998 itu menunjukkan kekecewaan dan kemarahannya.

Kini Derrida (15 Juli 1930-8 Oktober 2004) telah berpulang. Dia meninggal karena kanker pankreas pada Jumat (8/10) lalu. Tapi, apa yang ditinggalkannya, termasuk dekonstruksi, telah menorehkan namanya dalam huruf-huruf tebal sebagai filsuf paling berpengaruh di abad ke-20.

“Konsep” dekonstruksinya (Derrida sendiri menolak merumuskan dekonstruksi sebagai konsep, teori, atau semacamnya) tak pelak telah mewarnai wacana pemikiran di berbagai bidang, dari sastra hingga tata busana, dari senirupa hingga arsitektur. Dekonstruksi selalu menyertai wacana pemikiran filsafat kontemporer seperti struturalisme, pascastrukturalisme, pasacamodernisme, pascakolonialisme, teori kritis, dan kritik baru (new criticism).

Berkaitan dengan wafatnya sang tokoh filsafat mutakhir Prancis yang disebut Presiden Jacques Chirac sebagai “filsuf kontemporer terbaik dunia, salah satu intelektual paling besar di era kita” (Koran Tempo, 11/10) itu, tulisan ini mencoba mengangkat kembali gagasan utama Derrida tentang dekonstruksi tersebut.

Komentator

Banyak pihak menilai bahwa untuk memahami pemikiran Derrida terbilang sulit. Kesulitan itu, menurut saya, utamanya karena Derrida tidak pernah menulis suatu buku tunggal tentang metodenya. Dia tak punya semacam Arkeologi Pengetahuan punya Michael Foucault atau Unsur-unsur Semiologi-nya Roland Barthes; kedua tokoh ini hidup semasa Derrida dan menjadi tokoh penting (pasca-) strukturalisme. Alasan kedua, Derrida menciptakan istilah baru atau neologi semacam différance–yang tampaknya merupakan suatu upaya untuk menjaga jarak dari filsafat lain–yang punya arti khusus yang tak sepenuhnya dia sendiri rumuskan.

Paling banter dia hanya menyusun sebuah daftar artikel dan bukunya yang pernah dipublikasikan dan menyarankan urutan untuk membacanya. Buku-bukunya pun merupakan kumpulan artikel yang terikat pada satu tema tertentu.

Metode kerja Derrida mutatis mutandis dengan metode Ibn Rushd (1126-1198) yang dikenal sebagai komentator Aristoteles terbesar. Dengan mengomentari tulisan-tulisan Aristoteles, Ibn Rushd membangun filsafatnya sendiri. Derrida juga demikian. Dengan mengomentari gagasan-gagasan sejumlah filsuf Barat, dari Plato sampai Foucault, ia setahap demi setahap membangun filsafatnya.

Dengan cara itulah Derrida memperkenalkan dan menjalankan projek dekonstruksinya. Sehingga, tak ada cara lain untuk memahaminya selain mengikuti bagaimana dekonstruksi itu bekerja ketika Derrida membahas suatu gagasan seorang atau lebih filsuf.

Metafisika kehadiran

Sasaran utama dekonstruksi adalah membongkar apa yang disebut Derrida sebagai “metafisika kehadiran” (metaphysics of presence) atau logosentrisme (berpusat pada logos). Pembongkaran itu sudah dimulainya sejak tulisan-tulisan awalnya yang membahas filsafat tokoh fenomenologi Edmund Husserl (1859-1938) yang dipublikasikan sebagai Masalah Genesis dalam Fenomenologi Husserl. Pada 1962 dia menerbitkan buku terjemahan Dasar-dasar Geometri Husserl dan memberi sebuah pengantar sepanjang 170 halaman berjudul “Asal Usul Geometri”.

Sebagaimana filsuf Prancis sezamannya, filsafat Derrida tak lepas dari linguistik, terutama linguistik modern yang diperkenalkan Ferdinand de Saussure (dari sinilah kemudian berkembang “gerakan” strukturalisme Prancis). Kritik Derrida terhadap metafisika kehadiran ini dapat kita lihat melalui pandangannya tentang tanda dalam esai “Structure, Sign and Play in the Discourse of the Human Sciences” (Writing and Difference, 1978): “Sejarah metafisika, seperti sejarah Barat, adalah sejarah metafor dan metonimi.”

Derrida menyimpulkan bahwa garis besar metafisika Barat adalah determinasi Ada sebagai hadir. Sekurangnya sudah sejak Plato, filsafat memahami Ada (Being) untuk menandai “hadir di dalam waktu” (dalam konteks sekarang, presence). Derrida menyebut filsafat ini sebagai metafisika kehadiran–tema yang sebelumnya telah dibahas fenomenolog Martin Heidegger (1889-1976).

Dalam metafisika semacam ini, ada mengandaikan hadirnya sesuatu, bahkan sesuatu yang tak ada seperti dewa-dewa dalam mitologi atau sesuatu yang tak jelas ada tidaknya. Bila pihak Markas Besar Polri mengatakan bahwa Adrian Herling Waworuntu ada di Los Angeles, hal ini tidak berarti bahwa tersangka pembobol BNI Cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun itu sungguh-sungguh ada di sana.

Ada kemudian dihadirkan dalam “kini” yang permanen. Tentu saja, kita dapat mengatakan bahwa sesuatu itu memang “hadir” pada suatu masa tertentu atau pernah hadir atau akan hadir. Ini seperti kita mengatakan bahwa “Soekarno itu ada” atau Susilo Bambang Yudhoyono “berkomitmen terhadap bagaimana pers harus terus berkembang, mendapat peran dalam kebebasannya di negeri ini”.

Namun, metafisika kehadiran ini mangandung masalah. Jonathan Culler dalam artikelnya, “Jacques Derrida” (dalam John Sturrock (editor), Structuralism and Since: from Lévi-Strauss to Derrida, 1979), mencoba memaparkan perihal dekonstruksi dengan mengambil contoh paradoks terkenal yang pernah diajukan Zeno (sekitar 490 SM-430 SM), filsuf Elea (Velia), Italia, dan meditasi René Descartes (1596-1650).

Zeno bertanya apakah sebuah panah yang sedang melesat itu bergerak? Mari kita perhatikan lebih teliti bagaimana sebuah panah ada. Panah itu pada kenyataannya berada pada serangkaian kehadiran. Ia selalu berada pada suatu titik di suatu waktu dan suatu tempat. Ia, dengan demikian, tak pernah bergerak. Yang ada adalah sederetan panah yang berlainan waktu dan tempat.

Anda barangkali akan membantah bahwa panah itu serentak ada dari awal hingga akhir. Bila demikian, maka panah itu tak pernah hadir, jadi ia tak pernah ada. Inilah yang menjadi dasar dari metafisika kehadiran yang membuat kita selama ini memahami dunia dengan dua kemungkinan: ada atau tiada (presense/absense).

Sementara, Descartes dalam meditasinya tentang ada akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bila aku meragukan segala sesuatu karena tak ada sesuatu pun yang bisa kupercaya, namun pada akhirnya aku tak bisa memungkiri bahwa satu-satunya yang tak bisa aku ragukan adalah aku yang berpikir ini ada, cogito ergo sum. Aku ada karena aku yang berpikir hadir “setiap waktu aku menyebutnya atau memahaminya”. Metafisika Descartes ini mengandaikan ada sebagai kehadiran yang independen.

Derrida mengaitkan masalah ini dengan tanda. Kehadiran bukanlah sesuatu yang independen, karena setiap tanda mengandaikan adanya sesuatu yang diacu. Ia menandai (signify) sesuatu yang lain. Namun, metafisika selama ini memahami ada sebagai hadir bagi dirinya sendiri. Padahal, bagi Derrida, tanda itu menandai tanda yang lain, dan tanda yang lain itu menandai tanda yang lain lagi, dan seterusnya. Bila dikatakan ada buket mawar, maka hal itu menunjuk, misalnya, pada seorang pria, seorang wanita, dan sebuah kencan.

Sehingga, yang terbentuk kemudian adalah jaringan tanda, sederetan tanda, yang saling mengacu satu dengan yang lain. Pengenalan atas ada yang satu dengan yang lain hanya mungkin melalui perbedaannya. Seperti pada paradoks Zeno, apa yang hadir itu kompleks dan diferensial, ditandai dengan serangkaian perbedaan-perbedaan.

Wicara dan tulisan

Perbincangan filsafat pada prinsipnya merupakan perbincangan tentang logos, istilah Yunani untuk wicara (bahasa lisan), pikiran, hukum, atau akal/rasio. Dalam sejumlah esainya, Derrida menunjukkan bagaimana selama ini para filsuf dan ilmuwan lebih menekankan pentingnya wicara (speech) ketimbang tulisan (writing).

Ketika membahas Esai Tentang Asal Usul Bahasa karya Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), Derrida menunjukkan bagaimana Rousseau menilai wicara sebagai bentuk asali dan paling sehat dari bahasa, suatu kondisi alami dari bahasa. Rousseau mencurigai tulisan dan menganggap tulisan hanyalah turunan saja, suatu suplemen atau tambahan dari bahasa.

Tokoh lain yang juga menekan tulisan dan memajukan wicara adalah antropolog strukturalis Prancis, Claude Lévi-Strauss. Derrida membahas bukunya, Tristes Tropiques, terutama bab “The Writing Lesson” yang menganalisa munculnya tulisan dan konsekuensinya pada suku Nambikwara. Seperti Rousseau, Lévi-Strauss menunjukkan kerinduannya pada kesatuan primordial masa wicara sebelum adanya tulisan.

Keduanya menunjukkan bahwa tulisan telah melakukan “kekerasan” yang menandai tahapan yang tak mungkin kembali pada mentalitas “primitif”. Tapi, penilaian kedua tokoh itu kontradiktif dalam paparannya sendiri. Lévi-Strauss, misalnya, justru membuktikan bahwa kehidupan suku itu ditandai oleh “kekerasan spektakuler” yang bertentangan dengan pandangan sang antropolog yang memberi gambaran ideal dari kodrat mereka yang tak korup dan gembira.

Derrida berargumen bahwa tulisan itu telah menjadi bagian dari eksistensi sosial dan tak dapat ditentukan waktu munculnya yang biasanya disebut para antropolog sebagi konvensi grafis. Dalam konteks ini, tidak ada “otentisitas” murni yang dibayangkan Lévi-Strauss dan Rousseau telah dihancurkan oleh tulisan, karena tulisan itu telah ada dalam wicara.

Pembacaan teks Derrida atas naskah Lévi-Strauss dan Rousseau ini merupakan contoh bagaimana dekonstruksi bekerja. Dekonstruksi, dengan demikian, merupakan semacam strategi pembacaan yang mengungkapkan “retakan” pada naskah dan oposisi biner pada konsepnya, seperti budaya/alam (culture/nature) dan tulisan/wicara.

Derrida lalu maju ke tahap berikutnya dengan mengedepankan tulisan dalam filsafatnya. Tulisan, baginya, muncul di dalam tema hakiki dari wicara sekaligus di dalam teks. Dekonstruksi di sini berarti upaya pengungkapan aktif atas tulisan yang tertekan sekaligus siap untuk muncul. Dalam ungkapan Derrida yang sangat terkenal, “tak ada apa-apa di luar teks” (Il n’y a pas de hors-texte) yang muncul dalam Of Grammatology (1967).

Gramatologi

Untuk membangun filsafatnya, Derrida memperkenalkan banyak istilah, di antaranya gramatologi (ilmu tentang gramma–tulisan, huruf), bekas (trace), dan différance (gabungan dari difference atau perbedaan dan différer yang berarti berbeda dan menunda).

Pengertian dari istilah-istilah tersebut tidak mudah dipaparkan. Upaya untuk menjelaskannya pada kesempatan ini tidak bisa tidak merupakan sebuah reduksi atau penyederhanaan.

Gramatologi bukan semata membahas tulisan biasa tapi suatu tulisan dalam pengertian jaringan tanda, jadi suatu ilmu tentang tekstualitas (K. Bertens, Sejarah Filsafat Barat Abad XX: Jilid II Prancis, 1985). Kita, menurut Derrida, harus memikirkan tulisan–dalam waktu bersamaan–sebagai yang lebih eksterior dari wicara, tak hanya “citra” atau “simbol”-nya saja, dan yang lebih interior dari wicara, yang di dalam dirinya ada tulisan (Of Grammatology (1967). Kira-kira seluas itulah “tekstualitas” yang menjadi subjek gramatologi.

Dengan cakupan seluas itu dan kaitannya dengan jaringan tanda, Derrida kemudian mengusulkan untuk mengganti semiologi (ilmu tentang tanda yang lebih luas dari linguistik ) yang diramalkan kemunculannya oleh Saussure dalam Course in General Linguistics dengan gramatologi. Keuntungan dari substitusi ini akan memberi teori tentang tulisan suatu cakupan yang dibutuhkan untuk membalas tekanan logosentrik dan pensubordinasian ke linguistik. Juga, “Dia akan membebaskan projek semiologis itu sendiri dari apa yang, di samping perluasan teoritisnya yang lebih luas, telah dibangun oleh linguistik, diorganisasikan sama dengan linguistik sebagai pusat sekaligus tujuan akhirnya,” tulis Derrida.

Dalam kerangka gramatologi, Derrida memperkenalkan bekas yang dilembagakan. Bekas ini bukanlah suatu objek karena dia tidak memiliki bobot dan substansi sendiri. Dia tidak ada (hadir) tapi ada. Dia hanya menunjuk hal yang lain dan satu-satunya cara mengenalinya hanya melalui hubungannya dengan yang lain. Bayangkan pernyataan “dia bekas pacarku”. “Bekas” di situ tak bermakna apa-apa kecuali dalam hubungannya dengan “dia” dan “pacarku”.

“Bekas, di mana hubungannya dengan yang lain ditandai, mengartikulasikan kemungkinannya, dalam seluruh wilayah entitas (étant), yang metafisika definisikan sebagai ada-yang-hadir (being-present) mulai dari gerakan gaib bekas,” tulis Derrida. Jadi, apa yang dibayangkan metafisika kehadiran selama ini sebagai ada tak lain adalah bekas.

Karena tak ada unsur dalam penandaan yang tidak menunjuk unsur lain, maka bekas menjadi dasar bagi semua komponen penandaan. Bekas kemudian mejadi konsep yang membangun hubungan différance. Dalam pengertian ini, bekas memungkinkan bagi hadirnya ekspresi konkret dari sesuatu yang belum ada, atau memediasi antara ada dan tiada.

Penutup

Barangkali Anda sudah bosan dengan uraian yang bertele-tele ini, maka ijinkan saya tutup uraian ini dengan sebuah cerita. Suatu kali Derrida berkunjung ke Yogyakarta dan panik karena kehabisan uang. Namun, seorang koleganya di Fakultas Filsafat UGM yang juga sama-sama berkantong kering menenangkan dia. “Tenang, Da. Ini bulan Ramadan, besok pasti ada pembagian THR (tunjangan hari raya) di kampus,” kata koleganya.

Esoknya, dengan mantap, keduanya berangkat ke kampus. Namun, di kampus mereka hanya menemukan pengumuman: “THR tidak ada. Kemungkinan eksistensinya sedang diperdebatkan di kuliah Sejarah Filsafat Barat II.”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s