KEBENARAN DAN CITRA MANUSIA MODERN (Refleksi filosofis eksistensi Manusia dan makna kebenaran)*

Posted: Mei 12, 2012 in filsafat
Tag:

 

 

 
   

 

Oleh : Suhermanto Ja’far

 

MANUSIA MENCARI KEBENARAN

Problematika kebenaran tidak akan pernah tuntas kita bicarakan. Hal ini karena makna dan pengertian kebenaran yang dicapai oleh manusia bersifat relatif dan berbeda sesuai dengan karakter dan tujuan manusia itu sendiri. Sepanjang sejarahnya manusia akan selalu mencari dan berusaha untuk mendapatkan kebenaran. Manusia selama hidupnya selalu berada dalam pencarian. Manusia tidak pernah tahu tentang kebenaran secara hakiki, manusia hanya tahu tentang kebenaran kaitannya dengan pengertian operasional. Untuk itu, tulisan ini akan mendiskripsikan tentang  kebenaran dalam tiga kerangka pemikiran, yaitu; apa itu kebenaran; Bagaimana manusia sebagai makhluk pencari kebenaran dalam memahami kebenaran sepanjang hidupnya dan bagaimana manusia berhadapan dengan kesesatan.

Sepanjang sejarahnya, manusia akan selalu mencari apa itu kebenaran ? Problematika kebenaran selalu menjadi tanda tanya besar. Pertanyaan di atas akan selalu muncul dalam benak manusia, ketika manusia ingin mencapai hakikat kebenaran yang sudah tidak dipermasalhakan lagi. Disinilah manusia masih simpang siur memberikan definisi yang bersifat relatif, sehingga kebenaran harus kita dekati secara reflektif.

Secara sederhana, kebenaran selalu dihubungkan dengan hal memutuskan, bicara dan memikir yang berarti kebenaran diidentikan dengan kesesuaian antara data dan fakta. Kesesuaian antara data dan fakta merupakan sebuah kebenaran logis yang dikaitkan dengan adanya pernyataan dengan realitas, tetapi sebenarnya kebenaran lebih dari hal tersebut. Kebenaran juga bersangkut paut dengan persoalan being, dimana being itu sendiri merupakan realitas, sehingga kebenaran ada (being), merupakan suatu eksistensi pada dirinya. Karena itu, persoalan tersebut merupakan kebenaran ontologis. Kebenaran ontologis merupakan syarat mutlak adanya kebenaran logis.

Kebenaran ada (ontologis) yang diperhadapkan pada diri manusia merupakan sebuah penampakan obyek-obyek dalam mencari kebenaran, sehingga manusia harus memberikan pengertian tentang kebenaran sesuai dengan obyek-obyek yang menampakkan apa adanya segala fenomena pada kesadaran kita. Inilah yang dimaksud dengan kebenaran ontologis dalam pendekatan fenomenologis Husserl. Karena itu, kebenaran disini akan lebih bersifat obyektif, yaitu pengertian kebenaran yang ditampakkan obyek sebagaimana adanya obyek tersebut, sehingga obyeklah yang menjadi kriterium kebenaran, bukanlah subyek yang mengkonstruksikan kebenaran itu sendiri.

Manusia untuk sampai pada kebenaran obyektif, haruslah memiliki sikap reduksi. Sikap reduksi disini ditekankan pada sikap manusia untuk melepaskan intensionalitas pribadi dan kembali menjadi seorang diri manusia yang  tergantung pada obyek, tetapi obyek itu sendiri harus kita cari eidetic vision (hakikat)nya agar kita tidak terhalang oleh apa-apa yang ditampakkannya, sehingga seluruh proses sejarah dan penafsiran yang telah dilakukan oleh manusia harus kita letakkan dalam tanda kurung. Hanya dengan meletakan pada tanda kurung inilah manusia bisa lebih leluasa untuk sampai pada hakikat kebenaran tersebut.

Hakikat kebenaran hanya bisa dicapai manusia, jika manusia senantiasa  berdialog dengan realitas di luar dirinya melalui pengenalan-pengenalan. Pengenalan manusia terhadap realitas akan menjadikan manusia mampu memberikan abstraksi realitas pada kesadarannya yang bersifat konstruktif, sehingga manusia mampu memberikan makna yang lebih luas dari sekedar penampakkan realitas tersebut. Pengenalan realitas dengan segala istilah, atribut yang sesuai dengan realitas apa adanya dikonstruksikan  dalam kesadaran kita dengan memberikan pengertian sehingga membuat realitas lebih bermakna. Pengenalan  dan pemberian makna oleh manusia lambat laun membebaskan realitas tersebut dari anonimitasnya. Proses pengenalan realitas dan pemberian makna oleh manusia berlangsung terus menerus secara dialogis-dialektis antara realitas (obyek) dengan manusia (subyek).

Dialog antara subyek dan obyek  untuk mengetahui secara keseluruhan realitas obyek tergantung dari einstellung (sikap) orientasi orang yang bersangkutan dalam melihat dan memaknai realitas tersebut untuk sampai pada kebenaran. Namu harus kita sadari bahwa realitas tidak akan pernah menampakkan dirinya secara utuh-menyeluruh, pasti akan selalu ada bagian yang tersisa dan belum dapat dikenai atau disentuh, sehingga pada akhirnya menjelaskan kepada kita bahwa terdapat relativitas dalam makna kebenaran. Relativitas disini hanya berhubungan dengan besar kecilnya, jangkauan pikiran manusia. Karena itu, manusia sesungguhnya tidak akan pernah mencapai pengenalan yang utuh dan sempurna.

Seluruh daya, kekuatan dan kemampuan pengenalan yang dilakukan manusia tidak akan pernah terpenuhi hanya dengan satu macam pengenalan terhadap sebuah realitas. Manusia membutuhkan banyak pengenalan terhadap banyak realitas dengan banyak metode dalam mencari hakikat kebenaran. Being (ada) atau realitas tidak akan pernah dapat diberi pengertian secara utuh, bahkan manusia tidak akan mampu mengungkap keseluruhan dari realitas (being), akibatnya manusia terjebak dalam pencarian yang tidak akan pernah berakhir dan tuntas. Rahasia yang menyelubungi dunia, kebenarannya hanya dapat disingkap dengan kesabaran dan sedikit demi sedikit oleh manusia. Manusia hanya mampu secara bertahap dalam mengungkap kebenaran dari keseluruhan realitas.

Sebagai pencari kebenaran, manusia tidak akan pernah puas dalam mencari jawab. Ini karena kebenaran memainkan peranan penting dalam proses pelaksanaan tanggung jawabnya yang secara bebas membangun dan mengisi kehidupannya. Kebenaran mengajarkan manusia untuk melihat semua realitas yang berkaitan dengan hidup dan dirinya sebagaimana dialaminya secara nyata dalam kehidupannya. Kebenaran memberikan sebuah  penerangan dari ketidak tahuan manusia, sehingga kebenaran dalam hal ini berfungsi sebagai cahaya yang menerangi dan menampakkan wajah dunia secara nyata. Berdasarkan pemahaman ini, maka kebenaran  dapat membebaskan manusia dari kebodohannya.

Antara kebenaran dan kebebasan mempunyai relasi sinergis. Kebenaran hendak memberi petunjuk dan kebebasan yang mengirimkan kemana tindakan manusia itu ?, sehingga dengan kebenaran manusia tidak tersesat dan dapat menjadi dirinya sendiri yang ada bersama yang lain. Kebenaran memang tidak membutuhkan kebebasan, sebab tanpa kebebasan pun kebenaran tetap akan menjadi pandu dalam aktivitas seorang manusia. Bahkan kebebasan manusia diikat oleh kebenaran. Hanya melalui kebenaran sajalah manusia  menjadi dirinya secara konsekuen dengan memilih mana yang harus diperbuat dalam hidup dan lingkungannya.

Kebenaran menghadapkan manusia pada tanggung jawabnya. Ini berarti  bahwa manusia kemudian harus mampu memutuskan mengenai kebenaran-kebenaran yang penting bagi hidupnya, sehingga seluruh tingkah laku manusia selalu berujung pada tindakan kebenaran yang bersumber pada hati nuraninya. Hati nurani merupakan sarana pertimbangan  dalam aktivitas dan perilaku manusia dalam mencari kebenaran. Dalam hal ini Sorenz Kierkegaard memberikan dua macam kebenaran, yaitu kebenaran obyektif  dan kebenaran subyektif. Kebenaran Obyektif merupakan sebuah kebenaran yang tidak diamalkan atau tidak mengarahkan praktek hidup kearah kebenaran tersebut. Sedangkan kebenaran subyektif merupakan kebenaran yang melibatkan subyek dalam batinnya. Kebenaran akan menjadi sebuah kebenaran murni yang utuh, kalau manusia menjadikannya pedoman tindakan yang diamalkan baik untuk diri pribadi maupun diteruskan kepada orang lain dan mengajak untuk berbuat kebenaran, sehingga dapat mengisi nilai hidup kita semua.

            Bertolak belakang dengan kebenaran, kesesatan merupakan suatu hal yang tidak berkesesuaian dengan realitas, sehingga kesesatan dapat kita pandang sebagai antitesa dari kebenaran, baik ontologis maupun logis. Kesesatan pun merupakan ciri manusia disamping kebenaran. Ini karena kesesatan sebagai ciri manusia hadir secara bersama dengan kebenaran, tetapi kesesatan bukanlah semata sebuah kesalahan. Kesesatan dapat juga terjadi pada aspek logis, sekalipun tidak pada aspek ontologis. Dengan demikian, segala sesuatu yang tidak mempunyai relasi dan hubungan antara cara bicara, berpikir dan memutuskan dengan realitas  dapat dikatan sebagai kesesatan logis.

            Sesungguhnya, adanya kesesatan tidak berarti manusia berada dalam kesalahan dan dosa. Secara jujur harus kita akui bahwa adanya kesesatan tidaklah membebaskan, tetapi justru dapat membelenggu dan mengikat pada sesuatu yang sebenarnya tidak mempunyai nilai bagi kita. Ini karena kesesatan mempunyai daya tarik yang bersifat membujuk manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak bernilai. Pembuktian kesesatan  dapat kita lihat pada adanya keinginan yang bersifat sesaat, hedonistic seakan muncul dalam diri manusia, padahal  semua ini disebabkan oleh adanya kesesatan yang selalu membujuk manusia untuk menganggapnya  sebagai  yang benar dan menarik. Ini berarti kita sering kali menggunakan tolok ukur lain untuk menentukan kebenaran. Dengan demikian, hanyalah kejujuran, keterbukaan dan kerelaan untuk menerima realitas sebagaimana apa adanya, satu-satunya prasyarat dalam mencapai kebenaran.

 

BEBERAPA CIRI KHAS DARI CITRA MANUSIA MODERN

            Pengalaman terpenting bagi seseorang dalam hidupnya adalah ketika seorang manusia benar-benar menjadi kongkret. Manusia kongkret, yaitu Aku merupakan pembahasan yang menonjol dalam filsafat modern. Ini karena manusia merupakan inti dari keseluruhan sistem pemikiran, baik menyangkut, kesadaran, pengetahuan maupun perilakunya. Manusia atau Aku ini merenung tentang dirinya (aku) untuk mengungkap tentang cirri khas pribadinya. Aku dapat dimengerti sebagai sebuah kesadaran diri, karena manusia dengan aku-nya hadir untuk dirinya sendiri. Manusia atau aku sadar  (tahu) bahwa dirinya ada dan mengalami apa apa yang terjadi, baik di luar maupun di dalam kehidupan pribadinya.

            Kesadaran manusia pada dirinya sendiri menunjukkan bahwa manusia terbuka untuk dirinya sendiri melalui realitas kehidupan yang dialaminya, baik menyangkut pengalaman dari dalam maupun dari luar. Kehidupan manusia merupakan sebuah totalitas masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Semua ini merupakan sebuah peristiwa yang dialami oleh manusia, sehingga manusia benar-benar terbuka untuk diri sendiri. Karena itu, tak satupun  bidang  kehidupan yang tak terjamah oleh aku ini, sehingga tiap-tiap aku dapat menerobos atau menjamah secara esensial sudut-sudut yang paling dalam  dari hidupnya. Akhirnya, kita dapat menemukan bahwa seluruh hidup yang kita alami merupakan sebuah kesatuan dari diri kita.

            Manusia sebagai aku dengan keterbukaan dan pengalamannya memberikan bukti bahwa  aku merupakan suatu inti kepribadian yang menjadi landasan hidup yang tidak dapat tergantikan dengan apapun. Keterbukaan dan pengalaman manusia sebagai aku akan menjadi eksis dan benar-benar otentik, kalau kita sudah berhubungan dengan orang lain, dimana keotentikan seorang manusia akan menjadi nyata sebagai aku bukan orang lain. Disinilah eksistensi aku sebagai inti kepribadian. Keotentikan aku akan menjadi nyata, jika  aku mampu melepaskan diri dari keterjalinan dengan orang lain, kelompok (pemassaan).

Adanya pemassaan pada inti kepribadian ini menyebabkan otentisitas aku mulai rapuh dan dipertanyakan. Artinya, manusia tidak lagi berbicara tentang Kita, karena Kita berarti menyamakan atau menyatukan dirinya dengan orang lain, sehingga, manusia atau sang aku akan menjadi asing bagi dirinya. Aku tidak dapat dirampas dari dirinya sendiri dan diresapi oleh inti kepribadian. Manusia hidup di sisi dalam dari diri sendiri. Manusia tidak boleh kehilangan keterbukaan dan pengalaman sebagai seorang Aku, inti pribadi, sehingga hidup manusia hanya mempunyai keterarahan pada diri sendiri, karena aku, inti kepribadian adalah milik diri sendiri.

Berangkat dari hal ini, maka aku tidak akan pernah secara tuntas dikuasai orang lain, sehingga tidak akan pernah kehilangan inti kepribadian, yaitu sang aku. Inti kepribadian tiap-tiap orang menjadikan dia aku yang unik dan asli. Oleh karena setiap orang adalah aku, maka konsekuensi logisnya adalah bahwa aku adalah eksistensi yang tidak ada duanya atau tidak ada yang sama dengan diriku. Disamping itu, konsekuensi lainnya adalah bahwa aku tak dapat dikuasai sehingga begitu kuat, tetapi pada sisi yang lain, aku begitu lemah karena  berada dalam kesendirian dan sunyi. Karena itu,  eksistensi manusia begitu besar sekaligus begitu susah yang dalam bahasa Blaise Pascal disebut dengan grandeur et misere eksistensi manusia.

Manusia sebagai aku dengan kebesaran dan kelamahan (grandeur et misere) benar-benar menjadi inti kepribadian, sehingga manusia benar-benar hidup bagi dirinya, karena aku  sebagai inti pribadi yang hidup di sisi dalam merupakan miliknya yang harus selalu dijaga agar tidak kehilangan intensionalitasnya dengan diri sendiri atau mendistorsikannya. Kalaupun terjadi distorsi yang menyebabkan manusia menjadi asing bagi dirinya, tetapi masih tetap tertinggal suatu inti kesadaran yaitu aku yang akan tetap bias menemukan diri kembali secara terus menerus. Manusia tidak akan pernah kehilangan diri pribadi secara menyeluruh. Inti pribadi atau aku tidak akan pernah dapat dikuasai orang lain secara tuntas, total dan menyeluruh. Akhirnya, manusia sebagai aku bersifat tak tersentuhkan.

Sehubungan dengan hal di atas, Jean Paul Sartre membedakan manusia dan benda-benda dengan istilah etre-en soi (ada pada dirinya) serta etre-pour-soi (ada bagi dirinya). Menurut Sarte,  ada-pada-dirinya (etre en soi) hanya ada pada benda-benda, karena benda-benda tidak terbuka dan mempunyai kesadaran bagi dirinya. Sementara ada-bagi-dirinya (etre-pour-soi) merupakan suatu ciri khas dari manusia yang sadar dan terbuka bagi dirinya, karena ada bagi dirinya merupakan bentuk keterbukaan manusia bagi dirinya sebagai bentuk eksistensi dan cara berada manusia. Sartre mengatakan bahwa tiap-tiap bentuk keterarahan kepada yang lain akan menyeret manusia untuk keluar dari dirinya. Sehingga keadaan bagi dirinya tidak lagi dapat dihayati, dipahami. Manusia akhirnya tidak lagi ada bagi dan untuk dirinya secar menyeluruh. Inilah keunikan, keotentikan dan tak tersentuhkan dari aku.

Adanya sifat yang tak tersentuhkan dari aku ini menunjukkan bahwa manusia atau aku benar-benar penuh misteri. Kemisterian ini ditandai dengan hidupnya yang tidak bisa ditembus orang lain secara total, tetapi  pada hal lain manusia atau sang aku mempunyai cirri yang tak terduga dan tak terkatakan. Manusia yang dicirikan sebagai aku dengan segala keunikan, keotentikan melalui kesadaran dan keterbukaan bagi dirinya yang tak dapat disentuh, justru menjadikan manusia sebagai orang asing bagi dirinya. Karena itulah, manusia  berbicara tentang aku yang makin berjauhan, sehingga inti pribadi manusia, yaitu aku tetap tinggal terselubung dan penuh tanda Tanya. Dengan penuh teka-teki untuk dirinya sendiri, manusia selamanya masih tetap dalam proses menjadi. Itulah sesuatu dalam aku yang tak dapat disentuh dan diselami. Demikianlah pandangan Romano Guardini kaitannya dengan sifat dan ciri aku yang tak tersentuhkan.

Sesuatu yang tak tersentuhkan dari eksistensi aku ini, menyebabkan manusia, yaitu aku selamanya tetap tak pernah sampai rampung dalam penguasaan hidupnya. Manusia yang belum rampung ini pada akhirnya selama hidupnya manusia selalu dalam proses menjadi manusia. Karena manusia selalu dalam proses menjadi manusia, maka manusia merupakan pengarang hidupnya dan pencipta sejarah hidupnya, sehingga manusia akan selalu berdialog dengan ruang dan waktu hidupnya. Inilah ciri historisitas manusia sebagai ciri yang paling hakiki dari aku.

Dengan adanya dimensi historisitas ini, maka tiap-tiap aku merupakan makhluk yang menyejarah dan membuat sejarahnya sendiri. Dimensi historisitas ini menjadikan manusia mempunyai kebebasan dalam hidupnya  dan bertanggung jawab secara penuh terhadap dirinya. Kebebasan aku tercermin dalam perilaku, aktivitas dan perbuatannya yang ditentukan oleh manusia sendiri atau tindakan otonom manusia ditentukan oleh kesadarannya. Artinya, tindakan otonom dari sang aku selalu dapat dikembalikan kepada sang aku dan tindakan tersebut telah disadari secara utuh oleh aku. Karena itu, kebebasan sang aku merupakan konsekuensi logis harus dapat dipertanggung jawabkan kepada aku pribadinya.

Problematika di atas masih cenderung bersifat rohani, dimana manusia dipandang pada sisi dalam, realitasnya manusia juga mempunyai sisi luar sebagai media atau sarana ekspresi sisi dalamnya, sehingga manusia yaitu aku mempunyai hubungan dengan aspek luar dan menghadap keluar. Ini karena manusia mempunyai tubuh. Dengan demikian, sisi luar disini merupakan aspek kebertubuhan aku. Manusia tidak bias dipandang  sebagai dualitas yang terdiri dari roh dan tubuh, sehingga dapat dipandang sebagai dua bagian dari aku yang terpisah. Manusia atau aku merupakan kesatuan antara roh dan tubuh, sisi dalam dan sisi luar, kedua sama-sama hakiki bagi manusia, yaitu sang aku.

Sekalipun keduanya sama-sama hakiki, tetapi sisi luar aku tidaklah dapat diidentikan dengan manusia. Aku tidak dapat kemudian disamakan begitu saja dengan tubuhnya, sebgaimana citra orang materialisme. Kita harus dapat memahami bahwa tubuh tidak dapat tidak, harus ada bagi manusia. Berdasarkan kebertubuhan manusia di atas, apakah manusia itu mempunyai tubuh ataukah adalah tubuh itu sendiri. Untuk itu, Gabriel Marcel  melihat kata mempunyai dan adalah  tentang tubuh merupakan satu kesatuan hakiki. Kata mempunyai menunjuk pada relasi kepemilikan, berkenaan dengan benda atau sifat, sedangkan kata ada mengungkap identitas atau persamaan, dan tidak ada pemisahan dan pertentangan antara subyek dan obyek.

Oleh karena itu, manusia adalah tubuh dan mempunyai tubuh, sehingga istilah yang tepat adalah kebersetubuhan yaitu manusia mempunyai sekaligus adalah tubuhnya itu sendiri. Relasi kebertubuhan manusia dengan roh dikenal dengan istilah Subjective incarnee, yaitu subyek atau aku sebagai roh yang terjelmakan ke dalam tubuh. Disinilah roh sebagai subyek mendapatkan sarana atau media mengekspresikan aspek rohaninya melalui tubuh. Isi aku yang berupa pikiran perasaan, keinginan dan suasana batin lainnya tetap tertinggal dan tersembunyi bagi orang lain, kecuali kalau aku menyatakan dengan tubuh. Karena itu, tubuh merupakan sarana kontak yang amat penting.

Kebertubuhan  sebagai sarana kontak keterbukaan manusia atau aku ke luar dirinya, setidak-tidaknya ada tiga keterbukaan manusia terhadap realitas di luar dirinya, yaitu keberbukaan manusia dengan dunia, keterbukaan dengan sesama dan keterbukaan manusia dengan Tuhan. Pertama, Keterbukaan manusia dengan dunia merupakan suatu hal yang amat mendasar, sebab manusia hidup dalam dunia, sehingga manusia hadir menjadi barang dunia. Karena itu, manusia hidup dalam dunia berarti manusia harus ada dalam dunia sebagai barang dunia. Dunia dan manusia terjalin sinergis, sehingga tanpa adanya keterjalinan itu tidak dapat dipikirkan dan tidak ada manusia. Relevan sekali ucapan martin Heidegger yang memakai rumusan being in the World (ada-dalam-dunia) untuk mencirikan hidup manusia.

Being in the World sebagai ciri hidup manusia, maka manusia berada dalam situasi, sehingga manusia benar benar hidup secara kongkret dalam dunia. Hidup dalam dunia kongkret berarti terdapat keberkaitan manusia dengan situasi.  Keberkaitan dengan situasi menunjukkan bahwa hidup manusia selalu dinamis, karena hidup kongkret manusia selalu berubah sesuai dengan situasi, sehingga keberubahan ini menunjukkan adanya dinamisitas hidup manusia. Dinamisitas ini menunjukkan bahwa manusia hidup tidak hanya ke dalam tetapi juga ke luar. Inilah yang dikenal dengan sebutan bahwa manusia adalah eksistensial, yang pada perkembangan terakhir menjadi sebuah system filsafat yang dikenal dengan filsafat eksistensi atau eksistensialisme.

Sebagai barang dunia dan ada dalam dunia, maka manusia atau aku mempunyai keterjalinan dengan sesama manusia, sehingga adanya intensionalitas ini menunjukkan bahwa hidup manusia ada hadir dalam dunia tidak hanya sendirian, tetapi hidupnya dibagi bersama dengan yang lain atau manusia ada bersama dengan yang lain. Dengan kata lain, bahwa eksistensi manusia dapat dipahami sebagai ko-eksistensi, yaitu ada keterjalinan bersama. Manusia akan. Dengan demikian, hidup manusia yang menghadap keluar semakin menunjukkan adanya keotentikan aku secara kongkret. Ini hanya bisa ditunjukkan dengan adanya keterbukaan kepada yang lain.

Disamping hidup manusia atau aku mempunyai keterarahan kepada dunia dan sesama manusia, juga ada keterarahan lain yang tak kalah pentingnya, yaitu keterarahan kepada Allah. Keterarahan hidup manusia yang bersifat terbuka ini semakin menampakan eksistensi kemanusiaan Aku, baik terhadap dunia, sesama maupun kepada Allah. Dengan demikian menunjukkan bahwa hidup manusia merupakan suatu kesatuan, dimana tidak ada keterarahan yang terpisah satu sama lain. Keterarahan hidup manusia kepada Allah juga akan melibatkan secara dialogis-dialektis keterarahan kepada dunia maupun sesama, begitu sebaliknya, sehingga semua bidang kehidupan salig meneguhkan satu sama lain.

 

 

CATATAN KRITIS

            Secara umum karya P. Leenhouwers pada bab II maupun Bab III mempergunakan pendekatan fenomenologis, suatu sistem filosofis yang dikembangkan Husserl, dimana antara subyek dan obyek berjalan secara dialogis dan sama mempunyai peran yang signifikan keduanya. Subyek memandang obyek secara sama, karena keduanya sama-sama mempunyai kesadaran. Gagasan ini lebih bersifat terbuka disbanding dengan gagasan Descartes yang tertutup, dimana peran subyek lebih dominan ketimbang obyek. Sistem pemikiran Fenomenologi Husserl merupakan kritikan terhadap pandangan Descartes yang menempatkan subyek sebagai penentu segalanya. Kebenaran tergantung dari kesadaran subyek. Ini nampak dalam ungkapan Descartes yang terkenal Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada)[1]

Sistem pemikiran fenomenologis lebih bersifat terbuka, (sebagaimana tercermin dalam ungkapan Husserls,yaitu Cogito Cogitata)  karena Subyek memandang  obyek juga mempunyai kesadaran seperti subyek, sehingga Subyek atau Aku selalu dalam relasional dengan subyek lain (obyek). Disinilah relasi subyek dan obyek bersifat intersubyektif.[2] Dengan demikian, karya P. Leenhouwers ini lebih tepat memakai pendekatan fenomenologi Husserl dari pada rasionalisme Descartes. Ini karena orientasi pembahasan buku ini mengarah pada relasi manusia dengan lingkungannya, sehingga dibutuhkan pembahasan yang imbang antara pengaruh manusia terhadap lingkungannya maupun pengaruh lingkungannya terhadap manusia.

Khusus pada bab III pendekatan eksistensialisme dipakai P. Leenhouwers untuk mempertajam analisanya tentang keberadaan manusia. Ini karena pendekatan eksistensialisme merupakan suatu metode analisa sistematis tentang keberadaan manusia, sehingga Leenhouwers melakukan sintesa antara fenomenologi dan eksistensialisme menjadi fenomenologi eksistensialisme. Memang eksistensialisme lahir karena adanya pengaruh fenomenologi Husserls, tokoh utamanya adalah Martin Heidegger, Sartre, Gabriel Marcel maupun Kierkiegard mencoba melakukan pembahasan secara fenomenologi eksistensialisme dalam membahas adanya manusia.

Pada bab II Leenhouwers memandang kebenaran pada aspek logis dan ontologis. Kebenaran logis merupakan kesesuaian antara data dan fakta. Sedangkan kebenaran ontologis merupakan kesesuaian antara kesadaran kita dengan realitas obyek. Pandangan ini secara epistemologis, dapat digolongkan pada kebenaran koherensi dan kebenaran korespondensi. Ada kebenaran lagi yang tidak dijelaskan oleh Leenhouwers, yaitu kebenaran pragmatis, dimana sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat, seperti adanya teknologi. Begitu pula bagi orang beriman ada sebuah kebenaran yang tidak kalah pentingnya adalah kebenaran teologis, suatu kebenaran yang bersumber pada kitab-kitab suci, firman Tuhan. Kedua kebenaran terakhir ini tidak banyak dibicarakan pada tulisan Leenhouwers.

Disamping itu,  Leenhouwers menganggap bahwa untuk sampai pada kebenaran diperlukan banyak metode, tidak hanya satu metode. Pernyataan ini merupakan kritikan Leenhouwers terhadap pandangan Positivisme yang menganggap bahwa kebenaran itu satu (monisme metodologi), yaitu saintisme, dimana kebenaran sesuatu hanya yang sesuai dengan metode ilmu-ilmu alam. Pandangan Leenhouwers ini ada relevansinya dengan pandangan Fayerabend yang menganggap bahwa kebenaran itu banyak metode (pluralisme metode), sehingga semakin banyak metode, maka semakin dekat pada kebenaran sejati, sekalipun tidak secara utuh.

Penulis setuju dengan pandangan Leenhouwers yang menganggap bahwa hati nurani merupakan salah satu alat pertimbangan untuk melakukan tindakan kebenaran.  Bagi orang beragama semitik (Yahudi, Kristen dan Islam) Hati nurani tidak hanyak menjadi alat pertimbangan pada tindakan, tetapi hati nurani merupakan sumber kebajikan dan kebaikan bagi tindakan manusia, sehingga hati nurani adalah salah satu dari sumber kebenaran itu sendiri. Ini karena pada diri manusia ada segumpal daging, kalau itu benar maka benar seluruhnya, jika salah, maka salah seluruhnya, itulah yang disebut hati nurani.

Berbeda dengan kebenaran, kesesatan merupakan pengingkaran darinya, tetapi kesesatan bukanlah sebuah dosa atau evil dalam makna teologis, tetapi kesesatan dalam pengertian logis. Pandangan juga ada relevansinya dengan pandangan Paul Ricouer yang menganggap bahwa kesesatan atau evil bukanlah suatu dosa, tetapi suatu bentuk kesedihan, kegagalan. Inilah yang dapat kita sebut sebagai kesesatan ontologis, tetapi kesesatan logis merupakan bentuk pengingkaran antara subyek dan obyek.

Pada bab III, penulis menemukan beberapa hal dari pandangan Leenhouwers yang perlu dipertegas dan ditempatkan pada proporsinya untuk semakin memperkuat pandangan Leenhouwers. Secara umum, penulis banyak setuju pada pandangan Leenhouwers. Manusia atau Aku bukanlah jasmani tetapi bukan juga rohani. Aku merupakan kesatuan antara Jasmani dan rohani. Ketika orang berbicara seseorang, maka yang dimaksud adalah aku dalam totalitasnya, bukan hanya aspek dalam maupun aspek luar. Disinilah antara aspek luar (tubuh) dan aspek dalam (rohani) merupakan satu kesatuan yang berjalan secara sinergis, dimana tubuh manusia merupakan ekspresi Aku yang batini, sebagaimana  dijelaskan juga oleh Drijarkara.[3]

Adapun mengenai kebertubuhan manusia, sebagai media atau sarana mempunyai keagungannya, karena tidak bisa dikuasai tetapi pada sisi yang lain manusia juga bisa lemah dan dapat dikuasai. Keagungan dan kelemahan (Grandeuer et misere) tubuh pada tulisan Leenhouwers tidak dibahas secara rinci, dimana keagungan dan kelemahannya. Untuk membantu pembahasan ini penulis, mencoba pandangan Drijarkara, yaitu Pertama, Grandeur terletak pada susunan tubuh yang begitu sempurna, lengkap dan mekanisme serta cara kerjanya begitu menakjubkan dan sempurna, sehingga semuanya berjalan secara otomatis. Semua aktivitas manusia dapat dilakukan dengan tubuhnya, hampir tidak ada aktivitas manusia yang tidak mempergunakan tubuhnya. Bahkan manusia menyembah Tuhan pun juga harus melibatkan tubuhnya. Inilah yang dimaksud dengan keagungan Tubuh sebagaimana dikatakan Blaise Pascal. Kedua, Misere (kelemahan) terletak pada adanya upaya menghalangi manusia dengan tubuhnya seperti adanya rasa sakit. Tubuh manusia terdiri dari bahan-bahan tanah yang kotor, sehingga sekalipun dibersihkan tetap saja masih kotor. Bahkan tubuh manusiapun bias menjadi bahan tertawaan orang lain. Inilah yang disebut misere tubuh

Inilah keunikan dan kemisteriusan manusia, baik aspek dalam maupun aspek luar. Disatu sisi manusia dipuja, pada sisi yang lain dicaci. Disamping itu, manusia atau aku tidak hanya memiliki keunikan pada aspek luarnya saja, tetapi juga pada aspek dalamnya. Bahkan manusia itu sendiri merupakan misteri, makhluk yang tidak dikenal, sebagaimana dijelaskan Alexis Carel bahwa manusia merupakan misteri dari keseluruhan kompleksitasnya baik menyangkut aspek fisik, kepandaiannya maupun aspek dalamnya (rohani).[4] Akhirnya manusia atau aku merupakan makhluk yang tak tersentuhkan, masih ada sesuatu dalam aku yang tak bisa diselami, sehingga masih menyimpan rahasia yang unik dan kabur.

Manusia sebagai subyek, yaitu aku dalam perspektif fenomenologi mempunyai keterarahan (intensionalitas) sebagai bentuk keterbukan terhadap dunia, sesama dan Tuhan. Adanya keterbukaan ini menunjukkan bahwa secara essensial, manusia merupakan makhluk social. Karena dunia merupakan lingkungan alamiah bertemunya semua aktualitas subyek (aku) yang berpikir dan sadar. Disinilah makna Aku sebagai subyek yang berada pada lingkungan sosialnya. Karena itu, eksistensi manusia, yaitu sang aku akan menjadi sadar, otentik dan hadir untuk dirinya (ada bagi dirinya dalam isitlah Sartre), jika berelasi dengan suatu yang lain atau kesadaran yang timbul bersama aku lain. Disinilah, manusia dan lingkungan sosialnya selalu berada dalam dinamika dan menyejarah, sehingga manusia dengan dunianya hadir secara given pada eksistensi manusia.

Keterarahan manusia pada yang lain merupakan wujud eksistensi aku yang ada bersama yang lain. Keterarahan manusia aku kepada sesama (aku lain) semakin nampak peristiwa rasa malu dari Sartre dan Cinta kasih dari Gabriel Marcel. Kedua peristiwa tersebut merupakan bukti bahwa manusia hidup dibagi bersama dengan yang lain. Keterarahan manusia atau aku akan terasa nyata dan langsung akan kehadiran engkau melalui kesadaran cinta. Bagi Gabriel Marcel, kesadaran cinta akan membentuk suatu Communion (kebersamaan) yang berlangsung dalam persahabatan yang perennis (abadi) antara Aku yang ada bersama. Disinilah manusia mencapai puncak eksistensinya sebagai aku secara nyata yang ada bersama yang lain.[5]

            Sedangkan keterarahan manusia atau aku kepada Allah merupakan bentuk yang tertinggi. Penulis setuju dengan Leenhouwers dalam hal ini, tetapi keterarhan akan Allah tidak dibahas secara rinci. Penulis ingin menambahkan disini pandangan Martin Buber sebagai wujud keterarhan aku dengan Tuhan. Menurut Martin Buber relasi  aku- itu dan Aku-engkau merupakan cara untuk mewujudkan kesadaran Aku. Artinya, bahwa kesadaran Aku bukan tunggal yang hanya ditentukan oleh subyek dirinya, tetapi ditentukan oleh subyek lain (Aku lain) yang dinamakan engkau. Jadi Engkau merupakan suatu dimensi baru meng-ada-kan Aku dalam hubungannya dengan aku lain. Karenanya, hanya dengan pertemuan personal Aku-Engkau, aku mengalami kesadaran dan kehadiran yang nyata. Kehadiran Aku dan Engkau merupakan sisi dari proses menjadi ADA. Berangkat dari hal ini, Martin Buber memandang manusia, yaitu Aku selalu dalam relasi dialogis dengan benda-benda (I-it) maupun dengan sesama dan Tuhan (I-Thou). Relasi dialogis ini merupakan suatu keharusan dalam perjumpaan dengan Engkau. Perjumpaan ini menyebabkan Aku menjadi Ada karena Engkau, sebagaimana ucapannya, “Aku membutuhkan Engkau untuk menjadi Ada, Aku Ada, karena Aku berkata Engkau. [6]

            Pada akhirnya kesadaran yang terdapat pada Aku sebagai inti kepribadian manusia merupakan aktivitas Jiwa. Sehingga kesadaran atau suara hati merupakan aspek etis yang menempatkan roh sebagai bentuk yang paling tinggi dari semua itu, dan dianggap sebagai jendela jiwa yang terarah pada Allah.[7] Karena itu, dibalik kesadaran manusia terdapat sesuatu yang turut beraktivitas dalam kehidupan, sehingga membawa manusia pada yang Mutlak, yaitu Roh.  Keterarahan pada yang Mutlak u merupakan sesuatu yang Given bagi manusia, karena Allah merupakan  ide innead  manusia, sebagaimana teori Plato dan Descartes tentang Tuhan.

 

OoO Rechan OoO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

P. Leenhouwers, Manusia dalam Lingkungannya, Alih bahasa K.J. Veeger (Jakarta : Gramedia, 1988)

 

Louis Leahy, Manusia Sebuah Misteri,  (Jakarata : Gramedia, 1985).

 

Descartes, Discourse on Methode, Meditations and principle, terjemahan Inggris John Veicth, (London : JM. Dent & Sons Ltd, 1960),

 

Great Books of Western Philosophy, Vol. IV (1980),

 

Theodore de Boer, The Development of Husserl’s Thought, trans. Mortinus Nijhoff London, 1978,

 

Drijarkara, Filsafat Manusia, (Jogjakarta : Kanisius, 1978),

 

Alexis Carel, Misteri Manusia, alih bahasa Kania Rosli dkk. (Bandung : Remaja Karya, 1987),

 

PA. Van der Weij, Filosof-filosof Besar tentang Manusia, (Jakarta: Gramedia, 1985),

 

Martin Buber, I and Thou, Trans W. Kauffman, Edinburgh, 1970,

 

C.A. Van peursen, Orientasi di Alam Filsafat, alih bahasa Dick Hartoko (Jakarta : Gramedia,1988),

 


* Summary dari buku Manusia dalam Lingkungannya, karya P. Leenhouwers khususnya Bab II  mengenai Manusia mencari kebenaran dan Bab III mengenai Beberapa ciri Khas dari Citra Manusia  Modern.

[1] Manusia atau Aku dalam pandangan Descartes masih tertutup, dimana subyek masih terpisah dengan obyek. Obyek masih dipandang statis, sehingga subyek lebih dominan ketimbang peran obyek. Lihat Descartes, Discourse on Methode, Meditations and principle, terjemahan Inggris John Veicth, (London : JM. Dent & Sons Ltd, 1960), h. 26-27 dan 85-94. Bdk dengan Great Books of Western Philosophy, Vol. IV (1980), h. 51-52 dan77-78.

[2] Adanya relasi Subyek dan Obyek yang berkesadaran ini akhirnya melahirkan istilah Cogito Cogitata pada fenomenologi Husserl. Ini dibuktikan dengan konsep intensionalitas yang dikandung oleh obyek dengan kesadarannya dan bersifat immanen, sehingga dapat mengarah langsung pada obyek. Lebih jelasnya, lihat Theodore de Boer, The Development of Husserl’s Thought, trans. Mortinus Nijhoff London, 1978, h. 102.

[3] Drijarkara, Filsafat Manusia, (Jogjakarta : Kanisius, 1978), 13

[4] Untuk lebih jelasnya, lihat Alexis Carel, Misteri Manusia, alih bahasa Kania Rosli dkk. (Bandung : Remaja Karya, 1987), 9-52

[5] Lihat PA. Van der Weij, Filosof-filosof Besar tentang Manusia, (Jakarta: Gramedia, 1985), 180-182

[6] Martin Buber, I and Thou, Trans W. Kauffman, Edinburgh, 1970, 54-55.

[7] C.A. Van peursen, Orientasi di Alam Filsafat, alih bahasa Dick Hartoko (Jakarta : Gramedia,1988), 239-240

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s