tentang hadits

Posted: Mei 24, 2012 in hadits
  1. A.    PENDAHULUAN

Hadits merupakan salah satu sumber pengetahuan Islam. Hadits (الحديث) secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan maupun persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Qur’an[1] . Karena banyaknya hadits yang tersebar dan kekhawatiran para ulama Islam akan dilupakannya hadits-hadits tersebut maka mereka membukukan hadits-hadits tersebut. Beberapa para ulama itu adalah: Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Al-Turmudzi Buku yang mereka tulispun sudah sangat popular di kalangan masyarakat diantaranya adalah: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Al-Turmudzi dll. Buku-buku inilah yang menyebabkan sampai saat ini hadits-hadits nabi sampai pada kita. Penyebaran hadits pun semakin dipermudah karena adanya internet yang menyebabkan pengguna internet lebih mudah mencari hadits yang mereka inginkan.

  1. B.   Pembagian hadits berdasarkan tingkatannya

Secara garis besar tingkatan hadits dibagi dua yaitu: shahih dan dha’if. Namun, tingkatan yang sudah banyak dikenal di dalam masyarakat kita selain dua tingkatan tersebut adalah hasan[2] dan maudhu’[3]. Shohih ( الصحيح ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan secara sah kebenarannya berasal dari Nabi saw. [4], Hasan ( الحسن ), yaitu hadits yang kurang pantas dinilai shahih, tetapi tidak layak juga bila dinilai dha’if[5], Dha’if ( الضعيف ), yaitu hadits yang tidak memenuhi persyaratan hadits shahih atau hasan[6], Hadits maudhu’ adalah hadits yang dikemukakan oleh periwayat yang dusta dan bohong atas nama Nabi saw. secara sengaja. Ada beberapa persyaratan untuk sebuah hadits untuk mencapai tingkatan shahih, diantaranya, Yang ‘adl (orang tersebut haruslah muslim, yang berakal, baligh dll), Yang kuat, yang cermat yaitu, orang yang kuat/cermat tentang apa yang ia riwayatkan, dan hafal didalam hadits yang dapat ia keluarkan kapan saja diperlukan dengan betul, serta ia seorang yang ‘alim (mengetahui) tentang apa yang ia riwayatkan, Yang bersambung yaitu, sanadnya tidak terputus dari awal sampai akhir, tidak ada yang menyalahi aturan dalam penyampaian dan tidak ada cacat atau kekurangan di dalam hadits tersebut. Oleh karena itu hadits shahih dan hasan dapat dijadikan sebagai dalil dalam sebuah perkara agama. Namun, untuk hadits dha’if dan maudhu’ itu tidak boleh dijadikan dalil ( kecuali untuk hadits dhai’f yang tidak berstatus dha’if berat, menurut beberapa ulama maka boleh dijadikan sebagai nasihat ) dan ini yang menyebabkan kesalah pahaman banyak orang memahami perkara agama.

Banyak perkara bid’ah[7] menyebar di sekitar kita adalah salah satu akibat banyaknya hadits dha’if dan maudhu’ yang digunakan sebagai dalil. Belum lagi banyaknya aliran-aliran  pemahaman agama Islam saat ini yang menambah buruk citra agama Islam itu sendiri. Salah satu contoh hadits dha’if dan maudhu’ yaitu, “Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”[8] atau “”Sesungguhnya pada (segala) sesuatu terdapat hati dan hati Al-Qur’an adalah surat Yasin, dan barangsiapa yang membacanya maka Allah mencatat untuknya ganjaran membaca Al-Qur’an sepuluh kali”[9] dan masih banyak lagi hadits-hadits serupa yang telah menyebar di sekitar kita.

 

  1. C.   Pengertian hadits shahih, hasan, dha’if dan maudhu’

Al-Hadits (bahasa arab: الحديث) secara harfiah berarti perkataan atau percakapan. Dalam terminologi Islam perkataan dimaksud adalah perkataan dari Nabi Muhammad SAW. Namun sering kali kata ini mengalami perluasan makna sehingga disinonimkan dengan sunnah sehingga berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, persetujuan maupun sifat-sifat dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama. Hadits sebagai sumber hukum dalam agama Islam memiliki kedudukan kedua pada tingkatan sumber hukum dibawah Al Q ur’an.

Sebelum kita membahas mengenai tingkatan-tingkatan dari hadits itu sendiri, kita harus mengetahui istilah-istilah yang ada di dalam hadits itu sendiri. Sedikitnya ada 3 istilah, yaitu sanad, rawi dan matan. Secara singkat pengertian sanad dalam ilmu hadits adalah menerangkan jalan yang menuju kepada matan atau jalan yang menyampaikan kita kepada matan. rawi adalah setiap orang yang menceritakan hadits. Sedangkan pengertian matan itu sendiri adalah materi atau redaksi hadits yang diriwayatkan. Sebagai contoh:

Telah bercerita kepadaku Zuhair ibn Harb, katanya, bercerita Sufyan dari al-Zanad dari al-A’raj dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau berkata “Sekiranya tidak memberatkan kepada ummatku, niscaya mereka saya perintahkan bersiwak setiap hendak salat.” (HR. Imam Muslim)

Dari hadits di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa, “Sekiranya tidak memberatkan kepada ummatku, niscaya mereka saya perintahkan bersiwak setiap hendak salat.” dapat dikatakan sebagai matan. Nama-nama dari Zuhair ibn Harb sampai Abu Hurairah juga Imam Muslim dapat dikatakan sebagai rawi, sebab mereka adalah orang-orang yang menceritakan hadits. Adapun urutan dari  Zuhair ibn Harb, katanya, bercerita Sufyan dari al-Zanad dari al-A’raj dari Abu Hurairah adalah sanad hadits, sebab mereka adalah orang-orang yang dilalui hadits atau matan dari sumber pertama (Nabi) sampai dengan penerima terakhir, Imam Muslim.

3 Hal itulah salah satu penyebab hadits memliki tingkatan-tingkatan yaitu, shahih, hasan, dha’if dan maudhu’. Adapun pengertiannya:

Shahih ( الصحيح ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan secara sah kebenarannya berasal dari Nabi saw. Hadits Shahih wajib diamalkan menurut kesepakatan (ijma’) ulama Hadits dan para ulama Ushul Fiqih serta Fuqaha yang memiliki kapabilitas untuk itu. Dengan demikian, ia dapat dijadikan hujjah syari’at (dapat juga disebut dalil) yang tidak boleh diberikan kesempatan bagi seorang Muslim untuk tidak mengamalkannya[10]. Kitab yang memuat hadits shahih ini diantaranya: Shahih Bukhari karya Imam Bukhari dan Shahih Muslim karya Imam Muslim.

Hasan ( الحسن ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan berdasarkan sangkaan kuat terbebas dari kesalahan dalam riwayat. Istilah hadits hasan pertama kali dikemukakan oleh al-Tirmidzi pada abad ke 3-4 Hijriyah. Hadits hasan ini sebenarnya derajatnya hampir sama dengan hadits shahih, namun ada kekurangan di dalam periwayatnya yaitu kedhabithannya[11].

Dha’if ( الضعيف ), yaitu hadits yang diduga palsu atau diduga terjadi kesalahan dalam riwayat. Sudah tentu bahwa tingkatan hadits ini disebabkan adanya syarat-syarat yang tidak terpenuhi oleh suatu hadits untuk mencapai tingkatan shahih, bahkan ada beberapa syarat yang tidak dimiliki hadits tersebut. Ada beberapa pendapat dalam menyikapi hadits dha’if ini, ada yang mengatakan bahwa hadits dha’if tidak boleh diamalkan secara mutlak dan ada juga yang mengatakan hadits dha’if boleh diamalkan namun hanya sekedar nasehat dengan syarat hadits tersebut bukanlah yang tergolong dha’if berat, tidak bertentangan dengan dasar agama dan tidak boleh diimani bahwa hadits tersebut dari Nabi saw. tetapi hanya dalam rangka berhati-hati.

Hadits Maudhu’ adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW  baik segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, persetujuan maupun sifat-sifat beliau secara dusta. Sudah tentu hadits ini tidak boleh dijadikan dalil karena hadits tersebut hanya kedustaan yang diatas namakan Nabi saw. Hal-hal yang menyebabkan suatu hadist mendapatkan tingkatannya.

Kita telah tahu pengertian hadits shahih, hasan, dha’if serta maudhu’. Lalu apa yang menyebabkan hadits-hadits tersebut mendapat tingkatan shahih ?, dhai’f ? dan sebagainya. Oleh karena itu kita harus tahu hal-hal yang menyebabkan itu semua.

  1. a.      Hadits Shahih

Shahih ( الصحيح ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan secara sah kebenarannya berasal dari Nabi saw. Adapun beberapa syarat untuk suatu hadits mencapai tingkatan shahih ini sebagai berikut :

  1. Sanadnya bersambung semenjak dari Nabi, Sahabat, hingga periwayat terakhir.
  2. Periwayatnya orang yang memiliki sifat ‘adil dan dhabith.
    1. ‘adil artinya, periwayat setia mengamalkan agamanya sesuai dengan pengetahuanyang dimilikinya serta tidak pernah berbohong, apalagi pembohong.
    2. Dhabith artinya, periwayat memiliki hafalan yang kuat, periwayat tidak pelupa. Informasi haditsnya tidak syadz, maksudnya adalah informasi atau hadits yang dibawanya tidak boleh bertentangan dengan hadits yang dibawa oleh orang-orang yang lebih berkualitas atau dalil yang lebih kuat.
    3. Hadits yang diriwayatkan tidak boleh cacat, misalnya, mengatasnamakan hadits tersebut dari Nabi saw., padahal sebenarnya bukan dari Nabi saw.

 

  1. Hadits Hasan

Hasan ( الحسن ), yaitu hadits yang telah dapat dibuktikan berdasarkan sangkaan kuat terbebas dari kesalahan dalam riwayat. Hadits hasan ini sebenarnya derajatnya hampir sama dengan hadits shahih, namun ada kekurangan di dalam periwayatnya yaitu kedhabithannya.

Maksudnya, orang-orang yang meriwayatkan suatu hadits namun orang tersebut tidak dikenal mempunyai hafalan yang kuat atau cermat maka status hadits tersebut menjadi hasan. Tetapi, hadits hasan dapat naik derajat atau tingkatanya menjadi shahih karena hadits yang lain yang isinya sama yang diriwayatkan melalui jalur lain yang kualitasnya tidak lebih rendah.

  1. c.       Hadits Dha’if

Dha’if ( الضعيف ), yaitu hadits yang diduga palsu atau diduga terjadi kesalahan dalam riwayat. Jenis-jenis hadits dha’if :

Hadits dha’if yang disebabkan oleh keterputusan sanad.

Hadits dha’if yang disebabkan oleh cacat periwayatnya.

 

  1. Hadits Maudhu’

Hadits Maudhu’ adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW  baik perbuatan, perkataan, taqrir, dan sifat beliau secara dusta. Beberapa cara agar kita mengetahui bahwa suatu hadits berstatus maudhu’ adalah :

  1. Kepalsuan sanad:
    1. Periwayatnya dikenal pembohong, dapat terlihat dari biodatanya.
    2. Pemalsu hadits mengaku sendiri, seperti pengakuan Abdul Karim ibn al-Awja’ yang telah memalsukan tidak kurang 4000 hadits.
    3. Terdapat indikasi yang menunjukkan bahwa seorang periwayat adalah pembohong. Misalnya, Ma’mun ibn Ahmad al-Halawi mengaku pernah memperoleh hadits dari Hisyam ibn ‘Ammar. Kemudian ditanya oleh Ibn Hibban, “kapan engkau bertemu dia di Siria?” Ia menjawab, “tahun dua ratus lima puluh.” Kemudian Ibn Hibban mengatakan, “Hisyam yang kau sebut itu meninggal pada tahun dua ratus empat puluh lima.”

 

  1. 2.      Kepalsuan matan :

 

  1. Jika seorang yang benar-benar memahami makna dalam ungkapan bahasa Arab berkesimpulan bahwa ada kata-kata atau kalimat yang tertera dalam suatu hadits tidak mungkin diucapkan oleh orang yang fasih, terlebih oleh Rasulullah saw.
  2. Jika hadits tersebut bertentangan dengan temuan rasional, tanpa ada kemungkinan takwil[12]

Contohnya : sebuah hadits “Sesungguhnya kapal Nabi Nuh itu melakukan thawaf di ka’bah tujuh kali dan shalat di Maqam Ibrahim dua raka’at”

  1. Jika hadits tersebut bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits mutawattir[13]

Contohnya : sebuah hadits “Usia dunia itu tujuh ribu tahun lagi”

Bertentangan dengan ayat Al-Qur’an bahwa Hari Qiyamah itu hanya Allah Swt. yang mengetahuinya.

al-A’raf : 187.  Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”.

  1. Jika hadits tersebut menggambarkan bahwa para Sahabat sepakat untuk menyembunyikan ajaran Nabi.
  2. Jika sebuah hadits bertentangan dengan bukti-bukti sejarah.

Contohnya : Sebuah hadits menyebutkan bahwa Nabi mewajibkan membayar Jizyah[14] atas penduduk khaibar dan membebaskan mereka dari usaha dengan persaksian Sa’ad ibn Mu’adz.

Ada 2 fakta yang salah dari hadits tersebut :

  1. Sa’ad ibn Mu’adz telah wafat sebelum peristiwa Khaibar, yaitu pada Perang Khandaq.
  2. Sejarah mencatat bahwa Jizyah itu disebutkan sesudah Perang Tabuk, sebuah kurun waktu setelah Peristiwa Khaibar.

 

  1. D.   Penutup

Begitu banyak hadits yang menyebar, namun banyak orang-orang disekitar kita yang belum memahami bahwa hadits-hadits tersebut sebatas perkataan Rasulullah saw. yang disebarkan oleh para sahabatnya serta orang-orang lain yang sewaktu-waktu dapat berubah bahkan dapat mungkin diada-adakan. Oleh karena itu, pengetahuan seputar tingkatan hadits itu penting agar yang menyampaikan maupun yang mendengar tidak keliru memahami Islam itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.

Hakim, Abdul bin Amir Abdat. Al-Masaail jilid 3.

Thahan, Mahmud. Ilmu Hadits Praktis.

Zuhri, Muh. Hadis Nabi “Telaah Historis dan Metodologis”.


[2] Pedapat yang dikemukakan Imam al-Tirmidzi bahwa hadits dibagi menjadi 3 tingkatan, yaitu shahih, hasan dan dhai’f.

[3] Dapat dikatakan juga hadits palsu. Sebenarnya hadits ini termasuk juga di dalam jenis-jenis hadits dha’if.

[5] Prof. Dr. Muh. Zuhri, Hadis Nabi “Telaah Historis dan Metodologis”. h.57

[6] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Al-Masaail jilid 3. h.36

[7] Perkara agama yang diada-adakan

[9] Seuntai Kabar Tentang Hadits Palsu dan Lemah diatas Mimbar Ibnu Zulkifli As-Samarindy

[11] Hafalan yang kuat atau tidak pelupa

 [12] Makna yang tersembunyi, takwil menurut para ulama sama artinya dengan tafsir

 [13] Hadits yang banyak disepakati oleh banyak orang yang mustahil sepakat untuk bohong dan dapat dipastikan berasal dari Rasulullah saw.

[14] pajak per kapita yang diberikan pada penduduk non-Muslim pada suatu negara

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s